Dulohupa.id- Empat kali musim panen, sawah warga di Desa Mootilango, Buntulia Barat, dan Bulili, gagal panen. Hal itu karena pintu air irigasi yang rusak, sehingga tidak mampu menahan masuknya air laut ke sawah para petani.
Dari penuturan warga setempat, setidaknya 10 hektar sawah yang rusak akibat hal tersebut. Rusdiyanto Adam, salah satu petani di Desa Mootilango mengaku, air laut mengakibatkan padi di sawah miliknya tidak tumbuh dengan maksimal.
“Saya punya dua petak (sawah) itu gagal empat kali musim panen, itu diakibatkan oleh air laut yang merendam lahan sawah saya, sehingga pertumbuhan padi tidak maksimal,” ungkap Rusdiyanto.
Kepada dulohupa.id pada Jumat siang tadi, (22/10/2021) Rusdiyanto mengaku, bahwa pintu air irigasi itu sendiri telah lama rusak dan belum diperbaiki hingga saat ini. Tidak heran, beberapa sawah petani pun lantas dialihkan menjadi tambak.
“Padi di sawah itu tidak akan tumbuh maksimal jika terendam air laut, makanya sekalian saja dijadikan (jadi) tambak,” imbuhnya.

Rusdiyanto pun telah melakukan berbagai upaya untuk menghalang air laut masuk ke sawahnya. Hal itu ia lakukan bahkan tanpa bantuan pemerintah. Katanya, ia harus merogoh kantong untuk membeli mulsa. Meski kemudian hal yang ia lakukan itu sia-sia karena air laut tetap masuk ke lahan sawahnya sementara ia justru mengalami kerugian.
“Sempat saya berinisiatif untuk menahan air laut tersebut untuk tidak masuk ke lahan sawah say. Saya membungkus pematang sawah saya dengan mulsa, akan tetapi itu percuma karena air tetap masuk, dan biaya mulsa itu Rp.600.000 per bal,” sambung Rusdiyanto.
Saat dikonfirmasi, Mantasa, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Dinas Pertanian Pohuwato mengaku, rusaknya pintu irigasi itu bukanlah kali itu saja. Setidaknya sudah tiga kali pintu tersebut rusak. Pihaknya pun sudah melakukan perbaikan hingga tiga kali. Namun tetap saja rusak.
“Kalau persoalan pintu klep rusak, bukan cuma kali ini saja, akan tetapi sudah berulang bahkan sudah tiga kali rusak. Dan ini bukan kewenangan kami di Dinas Pertanian, ini pun sudah dibicarakan dari jaman Syarif Mbuinga masih menjabat sebagai Bupati Pohuwato,” ungkap Mantasa saat ditemui di kediamannya.
Sambung Mantasa, dirinya mengaku pihaknya sudah memberikan bantuan berupa bibit varietas Inpari yang bisa tumbuh di air payau. Namun menurut Mantasa, pertumbuhannya tidak maksimal, karena kandungan garam di sawah milik warga tersebut sudah berlebihan, sehingga padi sawah milik warga tidak tumbuh baik.
“Kita sudah berikan bantuan berupa bibit varietas Inpari untuk ditanam warga, akan tetapi tetap tidak maksimal pertumbuhannya. Teknologi juga ini ada batasnya, itu akibat kandungan garam yang sangat tinggi akibatnya padi sawah milik warga tidak tumbuh baik, unsur haranya juga tidak baik,” sambungnya.
Saat ini pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan BWS untuk perbaikan pintu irigasi tersebut. Ia mengakui, bahwa memang banyak petani yang menggantungkan hidupnya di lahan sawah di kawasan itu.
“Kita sudah beberapa kali berkoordinasi dengan BWS, dan sampai dengan saat ini kami masih menunggu kapan akan direalisasikan pekerjaan klep air (pintu irigasi) itu. Tak hanya itu, saya paham betul bahwa banyak warga yang bergantung pada lahan sawah mereka. Saya juga berharap ini peran pemerintah daerah untuk bagaimana sama-sama mencarikan solusi buat para petani, agar bagaimana lahan sawah milik mereka bisa kembali normal,” tutupnya.**












