Dulohupa.id- Penerapan jam malam karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sangat berdampak di sektor perdagangan. Karena itu, Pemerintah Kota Gorontalo tetap memberikan keluasan kepada pedagang untuk berjualan selama 24 jam dengan syarat, setiap makanan yang dijual hanya bisa dibawa pulang (take away), atau hanya bisa dibeli menggunakan aplikasi.
“Patokan pada instruksi Menteri, disebutkan untuk kegiatan makan minum di tempat itu dilarang hanya sampai pukul 21.00. Apabila untuk online, antar jemput, atau take away itu bisa sampai 1×24 jam. Yang penting tidak makan di tempat,” kata Iskandar Moerat , Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Gorontalo.
Ia menjelaskan, saat ini ada 7 Provinsi yang menerapkan PPKM darurat, dan 21 Provinsi masih level 4 atau zona merah dibatasi aktivitasnya sampai jam 5 sore. Sedangkan, 6 provinsi termasuk Provinsi Gorontalo sampai jam 9 malam.
Untuk itu, ia meminta para pedagang agar bekerjasama dengan pemerintah. Hendaknya, mereka menutup dan merapikan lapak mereka saat masuk jam malam.
“Pintu lapak jangan dibuka semua, cukup buka satu pintu saja untuk ojek online atau layanan take away, karena kalau dibuka lebar-lebar mengundang orang untuk masuk,” tandas dia.
Sementara itu, Hendriyanto, Koordinator di salah satu cafe ternama di Kota Gorontalo merasa setuju dengan kebijakan tersebut. Selama ini sebagai pedagang, ia merasa penerapan PPKM sangat berdampak apalagi dari segi operasional.
“Contohnya di cafe kami, orang-orang kan sukanya nongkrong sampai tengah malam. Namun, karena penerapan jam malam waktu operasional berubah,” ungkapnya.
Berikutnya, dia mengapresiasi tentang kebijakan buka online 1×24 jam. Menurutnya, itu sangat membantu pedagang khususnya cafe dan restoran yang berjualan makanan dan minuman. Hanya saja, dia berharap para petugas yang turun razia juga diberikan sosialisasi tentang kebijakan tersebut.
“Saya harap petugas di lapangan dikasih tau juga, jangan sampai nanti ada kesalahpahaman. Jangan sampai kita melaksanakan kebijakan itu, eh ternyata ada salah komunikasi lagi. Kita ngotot, mereka juga ngotot, ah salah lagi,” tutup Hendri.











