Scroll Untuk Lanjut Membaca
EKONOMIGORONTALO

Dari Tangan Perajin ke Panggung Nasional, 4 UMKM Binaan BI Gorontalo Hidupkan Karawo di IFW 2026

×

Dari Tangan Perajin ke Panggung Nasional, 4 UMKM Binaan BI Gorontalo Hidupkan Karawo di IFW 2026

Sebarkan artikel ini
Karawo
Peserta saat menampilkan busana Karawo di Indonesian Fashion Week 2026. Foto: Hums BI

Dulohupa.id – Sebelum selembar Karawo berkilauan di bawah gemerlap lampu panggung, ada sebuah proses panjang yang berlangsung dalam senyap. Serat kain diiris dan dicabut dengan hati-hati, lalu ruang-ruang kosongnya diisi kembali dengan sulaman.

Dari ketelitian tangan para perajin ini, lahirlah karya yang bukan hanya indah, tetapi juga menyimpan cerita tentang tradisi, kreativitas, dan denyut ekonomi masyarakat Gorontalo.

Inovasi Karawo ini ditampilkan oleh House of Abhiee, Tethuna, TIAR Handycraft, dan D’Korsase yang merupakan empat UMKM binaan Bank Indonesia (BI) Gorontalo di Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta International Convention Center, pada Rabu (29/07/2026).

Kegiatan yang berlangsung hingga 2 Agustus 2026 itu, sebagai ruang pertemuan bagi desainer, pelaku industri, UMKM, dan pasar untuk memperkuat daya saing fesyen Indonesia serta memperluas pengenalan wastra Nusantara.

Di balik House of Abhiee terdapat sosok Abidin Ishak. Sejak 2012, ia mengembangkan Karawo menjadi koleksi yang dekat dengan gaya hidup masa kini, mulai dari tunik, kemeja, jaket, setelan jas hingga gaun malam.

Perjalanan House of Abhiee turut menggerakkan kelompok perajin yang beranggotakan sekitar 50 perempuan, sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Keterlibatan tersebut membuka peluang bagi mereka untuk memperoleh tambahan penghasilan melalui keterampilan menyulam.

Tak hanya dia, jalur panjang juga ditempuh Mohammad Ramdhan Mopangga melalui Tethuna. Berdiri sejak 2014, jenama ini mengolah kain daerah menjadi busana modern dan berkelas, unggahan pada akun media sosial Tethuna mendokumentasikan sejumlah penyanyi nasional turut mengenakan rancangannya ketika tampil di atas panggung. Rekam jejaknya semakin kuat setelah Ramdhan meraih juara pertama Indonesia Young Fashion Designer Competition 2023 melalui karya bernuansa Karawo.

Sebelumnya, Tethuna turut membawa fesyen Gorontalo dalam peragaan busana di Ankara, Turki, yang mempertemukan karya Indonesia dengan audiens internasional.

Sementara itu, Isnawati Mohamad membangun TIAR Handycraft dari kegelisahan terhadap persoalan lingkungan di sekitar Danau Limboto. Usaha yang dirintis pada 2019 tersebut bermula dengan mengolah eceng gondok yang dianggap mengganggu menjadi kerajinan bernilai ekonomi.

Ketika pandemi menekan usaha, Isnawati memperluas langkahnya ke bidang fesyen ramah lingkungan dan pada 2021 mempertemukan warna alami ecoprint dengan sulaman Karawo. Inovasi itu melahirkan identitas baru, busana yang membawa warisan budaya sekaligus semangat keberlanjutan.

Karawo juga hadir dalam bentuk berbeda melalui D’Korsase, usaha kriya milik Ulfa Ali. Sulaman khas Gorontalo tidak hanya diterapkan pada kain dan busana, tetapi dikembangkan menjadi tas, dompet, dan aksesori yang dapat digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Karawo khas

Pendekatan tersebut membuat Karawo semakin dekat dengan konsumen sekaligus memperluas ruang kreativitas dan pasarnya. Karya D’Korsase juga pernah hadir sebagai aksesori pendamping dalam panggung Sustainable Muslim Fashion ISEF 2021, memperlihatkan bahwa produk kriya daerah dapat menjadi bagian penting dari keseluruhan narasi sebuah koleksi fesyen.

Melalui pembinaan yang mencakup penguatan kapasitas usaha, inovasi, dan akses pasar, Pemerintah Provinsi Gorontalo, Dekranasda Provinsi Gorontalo dan Bank Indonesia terus mendorong UMKM agar tumbuh lebih produktif dan berdaya saing.

Kehadiran House of Abhiee, Tethuna, TIAR Handycraft, dan D’Korsase di IFW 2026 diharapkan memperkuat posisi Karawo, bukan hanya sebagai warisan yang dijaga, tetapi sebagai sumber nilai tambah dan penghidupan yang terus berkembang.

Ketika para model melangkah di panggung IFW 2026, yang ikut bergerak bukan hanya busana dan aksesori. Di dalamnya turut berjalan ketekunan para perajin, harapan keluarga, serta cerita Gorontalo yang sedang merajut jalan menuju pasar nasional dan dunia.