Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINE

2 Bulan di Tenda Pengungsian, Korban Rumah Ambruk di Gorontalo Curhat Tak Ada Tempat Tinggal

×

2 Bulan di Tenda Pengungsian, Korban Rumah Ambruk di Gorontalo Curhat Tak Ada Tempat Tinggal

Sebarkan artikel ini
Rumah Ambruk Gorontalo
Dua bulan lebih, korban rumah ambruk akibat dihantam arus sungai Bone, di Kelurahan Botu masih berada di tenda pengungsian. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Korban rumah ambruk akibat dihantam arus sungai Bone di Kelurahan Botu, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo pada Selasa 13 Agustus 2024 lalu masih berada di tempat pengungsian.

Menurut pengakuan salah satu korban, Novi mengatakan, sudah dua bulan lebih ia dan keluarganya berada di tenda pengungsian pasca kejadian.

Novi membeberkan cukup kesulitan jika masuk musim penghujan karena akhir-akhir ini cuaca tak menentu.

“Kalau hujan airnya masuk-masuk ke dalam (tenda),” ujar Novi, Novi saat ditemui Dulohupa di tenda pengungsian, Senin (21/10/2024)

Dirinya mengungkapkan bahwa kini ada sejumlah dua kepala keluarga atau terdapat enam jiwa yang masih bertahan di tenda tersebut.

“Semua aktivitas disini, tidur, masak, makan itu disini,” ucapnya.

“Jadi kemarin itu sudah ada bantuan dari pak Faruq Zubair, ada ba tolong memberi hunian rumah kosong kepada oma dan opa. Kalau kami masih disini, karena rumah itu cukup kecil (untuk ditempati semua/cuman satu kamar),” lanjut Novi.

Menurut Novi, sebelumnya pada beberapa waktu lalu pihak pemerintah telah menawarkan kepada kedua kepala keluarga yang masih menempati tenda pengungsian untuk sementara bisa menempati kantor BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan).

“Cuman belum ada kepastian kalau mau jadi atau tidak ini. Tinggal tunggu saja,” ucapnya.

Kata Novi, dirinya bersama yang lain akan menunggu dan berharap untuk segera bisa sementara menempati gedung yang ditawarkan pihak pemerintah.

Novi juga menambahkan bahwa sebelum ditawari tinggal di gedung BP3K, pihak Baznas juga telah menawarkan untuk bisa tinggal di rusunawa, namun dirinya menolak.

“Mungkin torang yang menolak, karena ada alasan. Karena anak saya itu kembar dan masih kecil, lebih ke pengawasannya,” jelasnya.

Dirinya takut, jika nanti tinggal di rusunawa yang notabenenya bangunan bertingkat, bisa saja berbahaya untuk anaknya jika pengawasan tak ketat.

Novi berharap, agar dirinya bersama keluarga bisa segera pindah dari tenda pengungsian (hunian sementara), serta bisa segera mendapatkan hunian tetap.

Reporter: Yayan