Scroll Untuk Lanjut Membaca
KESEHATANNASIONALPEMKOT GORONTALO

Wali Kota akan Bentuk Tim Khusus, Bongkar ‘Dokter Mafia’ di RS Aloei Saboe

×

Wali Kota akan Bentuk Tim Khusus, Bongkar ‘Dokter Mafia’ di RS Aloei Saboe

Sebarkan artikel ini
Dokter RS Aloei Saboe
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea saat memimpin rapat internal dengan tenaga kesehatan di rumah sakit Aloei Saboe. Foto/Diskominfo

Dulohupa.id – Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea secara terang-terangan menyatakan ada oknum dokter di rumah sakit (RS) Aloei Saboe melakukan praktik tidak etis yang diduga memeras pasien. Salah satunya yang ia sebut sebagai “dokter mafia”.

Ia mengungkapkan, ada pasien yang diperintahkan membeli obat di luar apotek rumah sakit dengan harga fantastis, mencapai Rp3,2 juta. Parahnya, transaksi dilakukan lewat pihak ketiga yang diduga telah bekerja sama dengan oknum dokter.

“Kalau mau jadikan sebagai rumah sakit rujukan utama, maka yang pertama harus dibenahi adalah manajemen. Ini menyangkut soal pelayanan, integritas dokter, sampai pada praktik curang yang merugikan masyarakat. Saya tidak bisa diam lagi, karena saya sendiri sudah alami dan saksikan,” tegas Adhan dalam rapat forum internal dengan tenaga kesehatan di rumah sakit Aloei Saboe, Senin (14/4/2025).

“Ini bukan isu, ini fakta. Saya tahu nama dokternya. Kalau praktik seperti ini dibiarkan, bagaimana mungkin rumah sakit ini bisa kita banggakan?” tambahnya.

Adhan akan membentuk tim khusus yang terdiri dari unsur pemerintah, tenaga medis aktif dan purna, serta tokoh masyarakat untuk mengevaluasi total kinerja rumah sakit. Fokus tim tersebut mencakup audit manajemen, distribusi obat, alur rujukan, hingga penempatan dokter spesialis.

“Saya tidak hanya bicara di atas kertas. Kalau perlu saya berkantor dua hari seminggu di RSAS. Semua aktivitas akan saya pantau langsung, bahkan saya akan pasang sistem monitoring di ruang kerja saya di balai kota,” ucapnya dengan nada serius.

Adhan juga menyinggung perlunya pembaruan regulasi internal, seperti Peraturan Direktur yang hingga kini masih mengacu pada pedoman lama dari tahun 2014. Ketertinggalan ini dinilai menjadi salah satu penghambat utama dalam pembaruan layanan dan efisiensi rumah sakit.

Lanjut Adhan mengajak seluruh tenaga kesehatan di RSAS untuk menumbuhkan kembali rasa memiliki terhadap institusi tersebut. Menurutnya, rumah sakit bukan sekadar tempat bekerja, tetapi wadah pengabdian yang menjadi tumpuan harapan ribuan masyarakat.

“Di rumah sakit ini kalian hidup, menafkahi keluarga, maka jaga baik-baik nama dan pelayanannya. Jangan biarkan kepentingan pribadi merusak amanah yang lebih besar,” pungkas Adhan.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk keseriusan Wali Kota dalam menciptakan layanan kesehatan publik yang benar-benar berpihak pada rakyat, sekaligus memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap RSAS.