Scroll Untuk Lanjut Membaca
banner
HEADLINELINGKUNGAN

WALHI Gorontalo Kawal Isu Lingkungan dan Ketimpangan Sosial

×

WALHI Gorontalo Kawal Isu Lingkungan dan Ketimpangan Sosial

Sebarkan artikel ini
WALHI Gorontalo
Konferensi Pers yang digelar WALHI Gorontalo. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Resmi menjadi lembaga yang ke-29 berada di Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Gorontalo targetkan mengawal soal isu-isu lingkungan dan soal ketimpangan sosial.

WALHI Gorontalo sebelumnya melaksanakan Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDHL) pertama pada 21-23 Januari 2025 di Hotel ITC Damhil UNG, dengan mengusung tema pulihkan Gorontalo untuk mewujudkan keadilan ekologis.

Dalam kegiatan ini, terpilih Defri Sofyan sebagai Direktur Eksekutif Daerah WALHI Gorontalo periode 2025-2029. Selain itu, juga terpilih tiga pejabat fungsional Dewan Daerah WALHI Gorontalo periode 2025-2029, yakni Renal Huda, Puput Pakaya, dan Nurwahyu Muridja.

Dalam konferensi pers yang dilaksanakan pada Kamis (23/01/2025), Direktur Eksekutif Daerah WALHI Gorontalo, Defri Sofyan menyampaikan bahwa berkenaan momen hari patriotik Gorontalo, menjadi alasan pemilihan waktu yang tepat resminya WALHI Gorontalo, yang sebelumnya Simpul WALHI Gorontalo.

“Ini semangat yang menurut kami penting, untuk kembali diingatkan kepada masyarakat Gorontalo bahwa kemerdekaan masyarakat Gorontalo yang dalam hal ini kemerdekaan dari perusakan lingkungan dan ketimpangan sosial, itu harus dilakukan kembali,” ujar Defri.

Lebih lanjut kata Defri, soal kerusakan lingkungan di Gorontalo masih terus ada serta ketimpangan sosial masih cukup tinggi. Saat ini dari segi penguasa lahan ruang di Gorontalo sangat timpang.

“Kalau kita presentasikan, itu ada 37 persen lahan di Provinsi Gorontalo dikuasai korporasi, dalam hal ini pertambangan, perkebunan sawit, perkebunan HTE, pertanian monokultur jagung, pembangunan infrastruktur, nah ini kalau totalnya luasan ada 785 ribu hektar,” pungkasnya.

Keberadaan WALHI Gorontalo untuk mengawal soal isu-isu lingkungan atau kerusakan lingkungan serta ketimpangan sosial.

Menurut Defri, pada kurun waktu 2018 hingga 2023, bencana alam yang terjadi di Gorontalo ada sejumlah 172 kali, berupa banjir, longsor, kekeringan, cuaca ekstrim, kebakaran hutan dan lahan.

Sementara itu, salah satu Dewan Daerah WALHI Gorontalo, Renal Huda mengajak masyarakat agar dapat melaporkan setiap tindakan-tindakan perusakan lingkungan yang terjadi di Gorontalo kepada pihaknya.

“Kepada masyarakat Gorontalo, kiranya bisa menghubungi kami melalui akun media sosial WALHI Gorontalo, atau bisa datang langsung di kantor sementara WALHI Gorontalo bertempat di kantor Japesda,” ucap Renal.

Reporter: Yayan