Dulohupa.id – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melaunching program Kedaireka Matching Fund Patriot Pangan Sulawesi II, serta menggelar pameran teknologi pangan lokal di Desa Mulyonegoro, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Selasa (13/12/2022).
Kegiatan tersebut dilakukan bekerjasama dengan Fakultas Pertanian UNG, Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo, Dinas Ketahanan Pangan dan pihak terkait. Kegiatan itu juga dihadiri langsung Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo.
Ketua Panitia Expo Kedaireka Matching Fund Patriot Pangan Sulawesi II UNG Prof. Dr. Amir Halid, M.Si menjelaskan, UNG menjadi salah satu dari 10 perguruan tinggi yang dipilih Ditjen Dikti dalam bentuk konsorsium. Hal ini bertujuan untuk mendukung upaya kedaulatan pangan yang dilakukan pemerintah melalui penelitian maupun pendampingan kepada masyarakat.
“Dirjen Dikti memilih UNG dengan membawahi wilayah II Sulawesi, yakni Universitas Taludako dan Universitas Samratulangi,” ungkap Dosen Pertanian UNG tersebut.
Ia menjelaskan ada 4 program Kedaireka yang dilaksanakan, yakni melakukan pendampingan kepada masyarakat terutama petani Jagung Pulut di Kecamatan Pulubala.
“Kedua bagaimana jagung pulut itu dapat diolah menjadi beras analog. Selanjutnya pemanfaatan limbah menjadi silase, serta memberikan pelatihan digital marketing kepada masyarakat, terutama kepada pelaku UMKM,” jelas Prof Amir.

Selain jagung Pulut, sejumlah produk lokal juga dipamerkan dalam kegiatan Ekspo yang merupakan hasil pendampingan lewat program Kedaireka Patriot Pangan.
“Kami sejak 5 Oktober sudah melakukan pendampingan dan akan berakhir 17 Desember mendatang, tapi akan kami lanjut program ini ke tahun 2023,” ujarnya.


Di tempat yang sama, Bupati Gorontalo Prof Nelson Pomalingo menyebut program Kedaireka bukan saja mengantisipasi krisis pangan, tapi bisa membantu pertumbuhan ekonomi daerah.
“Tentunya program ini bisa membantu produk atau pangan lokal yang diolah masyarakat seperti jagung Pulut, nilai ekonominya bisa meningkat. Saya sangat mengapresiasi program yang dijalankan UNG ini,” imbuh Bupati Nelson.
Nelson mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong adanya peningkatan pangan lokal yang harus diolah terlebih dahulu.
“Kenapa harus diolah terlebih dahulu, supaya masyarakat tahu pangan ini bisa diolah apa saja. Jangan seperti kita sudah menanam jagung, baru kemudian panen terus dijual dan langsung di ekspor. Saya tidak setuju seperti itu, alangkah baiknya sebagian kita olah dulu pangannya untuk bisa menghasilkan nilai ekonomi,” ungkap Bupati Nelson.
Nelson berharap koloborasi seluruh pihak dapat berlanjut dari hulu sampai ke hilir. Sehingga upaya dalam mendukung pengembangan sektor UMKM atau pasar lokal dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Reporter: Wahyono











