Scroll Untuk Lanjut Membaca
PERISTIWAPOHUWATO

Tambang PETI Dengilo Kembali Dibuka, Petani Paguat Meradang

×

Tambang PETI Dengilo Kembali Dibuka, Petani Paguat Meradang

Sebarkan artikel ini
Kondisi tanaman padi di Desa Bunuyo, Kecamatan Paguat, Pohuwato. Yang mulai tercampur partikel lumpur dan pasir akibat tambang emas/Foto: Hendrik Gani

Dulohupa.id – Pertumbuhan padi sawah yang ada di Desa Bunuyo, Kecamatan Paguat, Pohuwato, tidak maksimal akibat aktivitas PETI (Pertambangan Emas Tanpa Izin) di Kecamatan Dengilo yang kembali dibuka.

Eman salah satu perwakilan petani yang ada Desa Bunuyo mengeluh dengan adanya aktivitas tersebut, sebab padi sawah yang saat ini dikerjakan harus mengeluarkan anggaran lebih agar padi yang mereka tanam bisa tumbuh dengan maksimal.

“Sebelum ada aktivitas tambang, biasa kita saat melakukan pengendalian tanaman hanya sekali saja seperti melakukan pemupukan dan pemberian obat-obatan. Tetapi saat ini harus mengeluarkan biaya dua kali lipat, sebab jika kita melakukan pemupukan hanya sekali, reaksi pupuk tidak mempan,” ujar Eman.

Dirinya juga mengaku, hal itu diakibatkan oleh limbah tambang yang ada dibagian hulu. Sebab, sungai yang mengaliri sawah tercampur partikel lumpur dan pasir.

“Paling banyak lumpur dan pasir, sehingga tidak maksimal pemberian pupuk dan obat-obatan, bagaimana bisa ketebalan lumpur saat ini semakin tinggi akibatnya pemberian pupuk tidak akan sampai pada akar,” tandasnya.

Bahkan kata Eman, saat ini ketebalan lumpur yang ada di saluran air sudah mencapai 40 persen dari ketinggian satu meter.

“Lihat saja di saluran itu, ketinggian lumpur sudah mecapai 40 persen, ketinggian dari dasar tanah itu 80 Cm, dengan tinggi tanggul saluran mencapai 1 meter,” imbuhnya.

Tak hanya itu, dirinya menuntut agar para pelaku usaha tambang memikirkan nasib para petani juga, Ia meminta agar para pelaku usaha PETI itu harus menormalisasi saluran dari hilir ke hulu.

“Kami tidak melarang aktivitas tambang disana, sebab sama-sama kita mencari nafkah, akan tetapi kita menuntut agar para pelaku usaha harus melakukan penormalisasian saluran dari hilir ke hulu, dan itu harus segera dikerjakan paling lambat bulan Maret, sebab saluran yang dihilir akan tertutup lumpur,” tegasnya.

Dirinya menambahkan, bahwa aktivitas pertaniannya di Desa Bunuyo ini akan terus berlangsung sampai pada anak cucunya nanti. Ia tidak mau hal yang terjadi di Desa Popaya, Kecamatan Dengilo, yang lahan sawahnya  sudah tidak bisa ditanami padi akibat lumpur tambang akan terjadi di desanya .

“Kita masyarakat disini banyak yang mengandalkan lahan sawah untuk mencari nafkah dan ini berkelanjutan sampai anak cucu kita. Kita takut hal terjadi di Desa Popaya akan menimpa kami para petani di Desa Bunuyo” pungkasnya

Reporter: Hendrik Gani