Untuk Indonesia

Suami Jadi Tersangka Pencabulan Adik Kandungnya, Misran Pasrah

Dulohupa.id– Misran Mohammad (27) hanya bisa pasrah saat penyidik Reskrim Polres Gorontalo, Resmi melakukan penahanan terhadap suaminya, RB (29) alias Ape. Pria paruh baya itu ditetapkan sebagai tersangka tunggal kasus pencabulan terhadap seorang bocah berumur 11 tahun yang tidak lain merupakan adik kandung dari istrinya sendiri. Ape dijerat dengan pasal 81 ayat 3 UU PPA minimal 5 tahun penjara maksimal 15 tahun penjara.

Kepada sejumlah wartawan, Misran mengaku pasrah dengan hasil penyidikan oleh pihak kepolisian. Apalagi mengingat korban dugaan aksi bejad sang suami adalah adik kandungnya sendiri. Bunga (Nama samaran,red) tinggal bersama Misran bersama Ape (Tersangka,red) selama 6 tahun.

pencabulan
Misran Mohammad (27) Istri tersangka kasus pencabulan, Saat di wawancarai sejumlah awak media, Senin (1/2) (F. Fandiyanto Pou/ Dulohupa.id)

“Bila suami (tersangka) saya memang terbukti bersalah, saya siap terima dengan putusan itu. Tapi saya percaya suami saya tidak melakukan hal itu,” terangnya.

Kasat Reskrim Polres Gorontalo, Iptu Mohamad Nauval Seno kepada sejumlah awak media, Senin (1/2) mengungkapkan, Untuk Tempat Kejadian Perkara (TKP) ada dua tempat berbeda yakni, di Desa Buhu Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo (Tempat tinggal tersangka RB). dan Desa Isimu Utara, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo.

“Pada hari Jumat 29 Januari 2021 Satreskrim Polres Gorontalo sudah melakukan penetapan tersangka RB yang tidak lain adalah kaka Ipar korban. Hari ini kita sudah melakukan penahanan kepada tersangka RB di sel Mapolres Gorontalo,” ujar Nauval di kantor Reskrim Polres Gorontalo, Senin (01/02) sore.

 

Polisi Akan Melakukan Tes DNA Jika Diperlukan

Lebih lanjut kata Nauval, Penyidik juga telah memeriksa satu saksi kunci yang sempat melihat langsung perbuatan Ape kepada korban. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Satreskrim Polres Gorontalo tidak lagi melakukan tes DNA. Karena penyidik menilai sudah memenuhi barang bukti berupa hasil visum dan para saksi.

“Tersangka tidak mengakui perbuatanya. Namun dengan adanya barang bukti dan saksi petunjuk (saksi kunci) yang melihat langsung perbuatan tersangka kepada korban sudah cukup. Untuk nama saksi itu rahasia,” ungkapnya.

Namun demikian, Kalaupun saat pelimpahan berkas perkara pihak kejaksaan meminta hasil tes DNA. Maka pihak kepolisian tetap akan melakukan tes DNA.

“Kemungkinan bila mana pihak dari kejaksaan meminta untuk tes DNA, Pihak kami akan melakukannya. Sambil menunggu P19,” tambahnya.

 

Reporter: Fandiyanto Pou

Comments are closed.