Siswa SMPN 1 Limboto yang Dikeroyok Seniornya keluar Paksa dari Rumah Sakit

oleh -46 Dilihat
Siswa Limboto
Rahman Abdullah, Ayah korban menceritakan kronologis kejadian penganiaayan terhadap anaknya di SMPN 1 Limboto. (Foto KAdek)

Dulohupa.id – Seorang siswa SMP Negeri 1 Limboto berinisial MRA yang menjadi korban pengeroyokan oleh seniornya keluar paksa dari rumah sakit Dr Ainun Habibe Limboto.

Ayah korban Rahman Abdullah mengaku keluar paksa dari rumah sakit karena tidak punya biaya untuk berobat. MRA sempat dirawat pada Rabu (24/9/2022) dan besoknya keluar dari rumah sakit.

Rahman juga mengaku alasan anaknya tidak lagi dirawat tidak memiliki BPJS Kesehatan.

“Biaya perhari di rumah sakit itu sekitar 550 ribu karena anak saya punya luka dalam akibat pukulan dan tendangan. Saya dan keluarga juga tidak punya BPJS Kesehatan pak, jadi kami terpaksa keluar sendiri dari rumah sakit,” ungkapnya saat diwawancarai Dulohupa, Sabtu (24/9/2022).

Menurutnya, kondisi MRA masih perlu mendapatkan perawatan intensif dari dokter, karena dari hasil Rontgen kepala korban alami keretakan, serta punya penyakit dalam hidung, bahkan korban beberapa kali muntah darah.

“Sedangkan tadi muntah darah pak, kasihan anak saya. Sampai sekarang matanya bengkak dan terpaksa kami hanya rawat di rumah,” ucap pria yang sehari-harinya tukang bentor tersebut.

Ia juga berharap pihak SMPN 1 Limboto bisa membantu anaknya untuk berobat. Rahman menilai pihak sekolah tidak bertangunggjawab penuh kepada siswanya yang menjadi korban penganiayaan.

“Kejadiannya kan dalam sekolah, harusnya ada perhatian dari pihak sekolah,” tutur Rahman.

“Apalagi orangtua pelaku tidak akan membantu anak saya untuk berobat, jika berkas laporan kepada kepolisian ditarik. Artinya masalah ini harus diselesaikan secara damai, nanti itu mereka membantu pengobatan anak saya,” sambungnya.

Sementara itu Direktur Rumah Sakit Ainun Habibie, Dr Fitriyanto Rajak menjelaskan, pasien yang tidak mampu untuk berobat disarankan agar membuat permohonan ke rumah sakit.

“Sekaligus membuat surat keterangan tidak mampu dari desa/kelurahan. Nantinya pasien mendapatkan potongan 20 persen dari biaya pengobatan,” Tuturnya.

NONTON VIDEO SISWA DIKEROYOK SENIORNYA:

Fitriyanto juga menyarankan agar pasien yang tidak mampu mendaftar ke BPJS Kesehatan agar semua biaya pengobatan ditanggung pihak BPJS.

“Solusinya seperti itu yakni membuat permohonan/surat keterangan tidak mampu atau segera mendaftar ke BPJS kesehatan,” kata Fitriyanto kepada Dulohupa.

Seperti diberitakan sebelumnya, MRA menjadi korban penganiayaan oleh 6 siswa SMPN 1 Limboto yang merupakan seniornya. Korban yang duduk di kelas VIII itu dikeroyok hingga babak belur usai para siswa salat Zhuhur di Musholah sekolah pada Rabu (21/9/220) sekitar pukul 12.40 Wita.

Peristiwa bermula saat korban akan melaksanakan salat Zhuhur di Musholah, diminta para seniornya dari kelas IX memintanya untuk maju ke shaf depan. Namun permintaan itu ditolak korban. Menurut korban, usai salat dirinya dipukul dan ditendang bebeberapa kali hingga pingsan.

Enda/Dulohupa