Gorontalo – Tak seperti taman pengajian Al Quran pada umumnya, Sekolah Ramadhan inklusif di Masjid Al Muqarrabin, Kota Gorontalo begitu hangat dan khusuk. Kegiatan yang pertama kalinya di Gorontalo tersebut turut diikuti oleh peserta tunarungu yang ada di sekitar Kota Gorontalo, baik yang berusia dewasa maupun anak–anak, dan telah berjalan selama dua pekan.
Kegiatan diinisiasi oleh tiga komunitas peduli disabilitas di Gorontalo, diantaranya Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Gorontalo, Komunitas Rangkul Asa, dan Taman Pendidikan Al Quran Tuli Gorontalo. Ketiga komunitas ini aktif terlibat dalam kampanye dan edukasi berkaitan kesetaraan dan pemenuhan hak disabilitas di ruang publik.
Selama sekolah berlangsung, para peserta tunarungu terlihat bersemangat mengikuti kegiatan keagamaan. Berbagai kegiatan seperti pengajaran Al Quran isyarat, fikih wudu, rukun islam, shalat, adab, hingga khatam Al Quran.
Semua pengajaran yang berlangsung menggunakan bahasa isyarat penuh. Tim pengajarnya pun terdiri dari para akademisi dan lulusan pengajar Al Quran isyarat resmi dari Kementerian Agama Provinsi Gorontalo.
Selain kegiatan pengajaran agama, para peserta kegiatan juga mendapatkan sembako dan Mushaf Alquran Bahasa Isyarat. Menjelang buka puasa, mereka membagikan takjil kepada para pengendara motor, Minggu (8/3/2026).
Salah satu peserta penyandang tuli, Yeyen Iloponu (32), mengaku turut senang dengan adanya kegiatan inklusif khusus tunarungu. Melalui sekolah Ramadhan, ia belajar mengenai banyak hal keislaman yang selama ini ia Jalani.
“Senang bisa mempelajari (Islam) untuk pertama kali karena sebelumnya tidak pernah ada, tidak pernah diajarkan, saya selalu bingung tentang ajaran agama islam, sehingga dengan kegiatan ini saya baru memahaminya,” ungkap Yeyen dengan bahasa isyarat yang dibantu dengan penerjemah.
Yeyen berharap dengan kegiatan ini terus berlanjut di kemudian hari. Perempuan yang berprofesi sebagai penjual kue ini begitu senang mempelajari Islam dan memilih belajar dari rumah di kemudian hari.
“Kedepannya saya tetap mau belajar seperti ini di kemudian hari nanti, terima kasih saya ucapkan kepada semua panitia yg telah mengajarkan materi – materi fikih dasar, saya senang mempelajarinya,” pungkas Yeyen dengan sumringah.
Sementara itu, penanggung jawab kegiatan sekaligus pengajar Sekolah Ramadhan Inklusif, Nabila Salsabila Robot, menyebut sebanyak 40 peserta tunarungu yang mengikuti Pelajaran Al Quran isyarat, fikih, shalat, hingga rukun islam.
Nabila menambahkan alasan diadakannya sekolah Ramadhan inklusif karena sulitnya akses agama bagi kaum disabilitas. Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah tuna rungu di Gorontalo sebanyak 1078 orang. Dari jumlah tersebut yang mampu membaca Al Quran hanya berjumlah 9 orang.
“Hal yang miris sebetulnya, makanya dilaksanakanlah sekolah ini untuk membantu meningkatkan pemahaman agama teman – teman disabilitas,” ujar Nabila.
Nabila mengharapkan dukungan dari banyak pihak agar kegiatan sekolah inklusif ini bisa diadakan rutin setiap tahun. Ia juga mengharapkan kegiatan ini mampu menyadarkan masyarakat akan kehadiran kelompok disabilitas tuli yang masih terbatasi dalam memperoleh ilmu agama.
“harapan besarnya masyarakat makin sadar bahwa ada kelompok disabilitas tuli yang masih terbatasi untuk belajar agama,” tutup Nabila.











