Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINENASIONALPENDIDIKAN

Sekolah Negeri Tak Punya Gedung, Bukti Buruknya Pendidikan di Gorontalo

×

Sekolah Negeri Tak Punya Gedung, Bukti Buruknya Pendidikan di Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Sekolah Pendidikan Gorontalo
Para siswa SDN 1 Bone Raya duduk melantai saat belajar di bekas bangunan masjid. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak untuk meningkatkan taraf kebahagiaan serta kesuksesan dalam hidup. Namun kesetaraan pembangunan pendidikan yang diberikan pemerintah masih belum kunjung diperbaiki hingga saat ini.

Seperti yang dirasakan para siswa dan guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1  Bone Raya yang terletak di jalan Trans Sulawesi, Desa Tombulilato, Kecamatan Bone Raya, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Sejak tahun 2020, proses pembelajaran di sekolah negeri ini sangat miris. Mereka terpaksa berpindah-pindah tempat demi rutinitas belajar mengajar yang layak. Hingga akhirnya menempati bekas bangunan masjid yang disewa.

Kondisi ini dijalani para siswa dan guru karena tidak memiliki gedung sekolah pasca SDN 1 Bone Raya diterjang banjir pada bulan Agustus 2020.

Pendidikan Gorontalo
Proses belajar mengajar di bekas bangunan masjid oleh siswa dan guru SDN 1 Bone Raya. Foto/Dulohupa

Selang tahun 2020 hingga memasuki 2025, sekolah itu tak kunjung mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat seakan tutup mata. Hal ini membuktikan bahwa betapa buruknya pendidikan di Gorontalo.

Saat ini siswa dan guru hanya bisa menempati bangunan masjid yang tak terpakai. Tak ada campur tangan dari pemerintah, mereka bersikeras mengumpulkan uang untuk menyewa bangunan masjid.

Uang sewa didapatkan dari uluran tangan dari beberapa Anggota DPRD Kabupaten Bone Bolango, serta patungan dari orang tua siswa dan guru.

“Kalau di bangunan masjid ini sudah enam bulan dan itu sewa. Sebelumnya pernah pindah-pindah. Pernah memanfaatkan rumah warga, pernah juga memanfaatkan bekas rumah guru yang memang tidak layak sekali untuk belajar,” jelas Riskawati Pakaya, salah satu guru SDN 1 Bone Raya saat ditemui awak media, Rabu (08/1/2025).

Sekolah Gorontalo
Bekas bangunan masjid di Desa Tombulilato, Kecamatan Bone Raya yang dijadikan tempat belajar mengajar SDN 1 Bone Raya

SDN 1 Bone Raya merupakan sekolah gugus. Namun pasca diterjang banjir, banyak siswa yang memilih pindah sekolah karena tidak nyaman. Di bekas bangunan masjid saja, para siswa dan guru terkumpul di satu tempat, sehingga menimbulkan keributan.

Kini jumlah muridnya hanya 61 orang tercatat di Dapodik, serta 11 orang tenaga guru dan operator. Saat ini setiap kelas, hanya diisi tidak sampai 20 orang.

“Kalau bicara belajar, jujur ini tidak kondusif. Dari dulu harapan kami ingin mendapatkan sekolah yang layak entah dari pemerintah Provinsi, Daerah atau pusat, itu menjadi harapan kami,” imbuh Riskawati.

Sementara para siswa mengaku tidak fokus menerima pelajaran. Bahkan ada seluruh siswa kelas tiga terpaksa duduk melantai.

“Tidak nyaman karena panas, berisik dan terganggu karena suara kendaraan yang lewat di jalan,” ujar Najwa Ruchban, siswa SDN 1 Bone Raya.

Kata Najwa, sekolahnya ambruk dihantam banjir bandang saat itu dirinya tengah duduk di bangku kelas satu. Kini dirinya telah duduk di bangku kelas lima.

“Pengennya sekolah baru, nyaman dan tidak ribut agar bisa fokus belajar,” ucapnya dengan harapan.

Siswa dan guru hanya berharap pemerintah bisa membangun sekolah yang baru. Terinformasi, pihak sekolah masih menunggu realisasi dari pemerintah setempat yang menjanjikan akan membangun SDN 1 Bone Raya di tahun 2025.

Reporter: Yayan/Enda