Dulohupa.id – Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang dan kering dari biasanya mulai menimbulkan dampak nyata bagi sektor pertanian di Gorontalo. Saat wilayah ini masih berada di fase puncak kemarau, para petani penggarap sawah menghadapi tantangan serius, dimana jadwal tanam yang seharusnya sudah dimulai kini terancam tertunda.
Kekeringan yang melanda beberapa waktu ke belakang, membuat lahan persawahan mengering keras dan sumber air irigasi menyusut drastis. Kondisi tanah yang belum cukup lembap membuat petani tidak bisa menanam padi tepat waktu.
Saat ditemui, salah satu petani mengungkapkan bahwa saat ini terpaksa belum bisa melakukan tahapan tanam karena dampak kekeringan yang melanda.
“Iya ini seharusnya sudah masuk musim tanam, itu biasa bulan September-Oktober sudah musim tanam itu,” ujar petani di Kelurahan Moodu, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo pada Senin sore (21/9/2026).
“Tapi karena belum ada air, belum hujan ini, jadi belum bisa tanam,” lanjutnya.
Jelasnya, dampak kekeringan yang berkepanjangan ini cukup signifikan dirasakan oleh para petani. Terlebih pada ganguan atau kemungkinan berubahnya jadwal tanam di ladang persawahan.
“Disini juga biasa terakhir masuk air yang dari Sungai Bolango, jadi memang tertunda. Tapi kalau saya lihat, kalau tidak salah di tempat lain juga masih banyak yang belum bisa tanam, karena belum ada air,” ucapnya.
“Biasanya kami setelah panen, itu sudah persiapan pajeko (traktor), jadi air sudah kase masuk di sawah. Tapi ini karena belum ada air, jadi belum bisa, jadi kemungkinan mau ta undur musim tanam ini,” lanjut petani.
Berdasarkan data, awal musim hujan di Gorontalo tidak serentak antarwilayah. Sebagian daerah baru akan menerima hujan pada pertengahan November, bahkan ada yang hingga akhir Desember. Hal ini berpotensi memperlebar keterlambatan masa tanam, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi masa panen dan ketersediaan beras di tingkat lokal.
Meski menghadapi kendala, para petani berharap hujan bisa segera turun agar siklus pertanian dapat kembali normal. Keterlambatan yang terlalu lama dikhawatirkan menurunkan produksi padi dan menekan pendapatan warga tani.
Reporter: Yayan











