Dulohupa.id – Puluhan narapidana (Napi) mengikuti program pemberantasan buta aksara yang dilaksanakan Lapas Kelas IIA Kota Gorontalo. Layaknya siswa, mereka diajarkan membaca dan menulis. Materi yang diajarkan pun baru dasar-dasar huruf abjad Bahasa Indonesia.
Warga binaan di Lapas ini mengikuti kelas belajar dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok baru memulai dari awal dan kelompok yang sudah bisa mengeja huruf abjad.
Selain peserta belajar berusia 20 sampai 40 tahun, ada juga warga binaan yang sudah berusia 50 sampai 60 tahun ke atas. Mereka mengaku tidak tahu membaca dan menulis sejak masa anak-anak.
Setelah tiga bulan belajar di Lapas Gorontalo, mereka mulai mengenal huruf-huruf abjad hingga menghafalnya.
Seperti yang dirasakan salah satu warga binaan, Rahmat Yunus. Ia mengaku sudah tahu membaca dan menulis setelah belajar selama 7 bulan.
“Terima kasih banyak untuk bapak kalapas, saya sudah tahu membaca. Alhamdulillah semua huruf sudah hafal dan tahu menulis. Memang sebelumnya tidak tahu sama sekali tapi sudah tahu. Kalau saya sudah 7 bulan belajar. Sudah tahu huruf-huruf semua,” ungkap Rahmat.

Selain petugas Lapas yang mengajar, para pengajar di kelas ini bahkan dari warga binaan itu sendiri.
Belajar membaca dan menulis kepada para Narapidana merupakan program pemberantasan buta aksara yang diselenggarakan Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Provinsi Gorontalo.
Kasie Binadik Lapas Kelas IIA Kota Gorontalo menjelaskan, pihak lapas menjadwalkan belajar membaca dan berhitung dari Senin hingga Kamis setelah warga binaan selesai belajar mengaji.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas intelektual warga binaan selama menjalani masa pidana.
“Kegiatan ini diperuntukan bagi tahanan yang tidak pernah mengenal sama sekali bangku pendidikan, bahkan tidak pernah mengenal huruf abjad. Kami melakukan ini setiap pekan itu empat kali mulai senin sampai kamis,” Ujar Kasdin.
Hingga saat ini, Lapas setempat telah menamatkan 15 orang yang sudah lancar membaca dan menulis.
“Sisanya masih 30 orang dan usia mereka ada diatas 20 tahun dan diatas 60 tahun,” tambah Kasdin.
Tak hanya di ruang belajar, sejumlah narapidana masih antusias belajar di depan ruang tahanan hingga di taman lapas. Meskipun sudah lanjut usia, mereka berharap sudah tahu membaca dan menulis hingga bebas dari penjara.

Reporter: Enda












