Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

Praktik Konservasi Kelelawar Buah di Desa Olibu, Paguyaman Pantai

Dulohupa.id – Kelelawar memiliki peran ekologis di alam, salah satunya sebagai penyebar biji buah, dan membantu penyerbukan tanaman. Meski begitu, rupanya perburuan terhadap satwa ini kerap terjadi, terutama kelelawar jenis kalong putih atau accerodon celebensis. Kelelawar jenis ini diburu sebab harganya yang melonjak terlebih di tengah pandemi. Di Desa Olibu, Paguyaman Pantai, Boalemo yang menjadi habitat kelelawar ini bahkan, populasinya diperkirakan hanya tersisa satu hingga dua juta ekor saja.

Kelelawar pemakan buah yang memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibanding kelelawar jenis lain ini harganya melonjak, dari yang awalnya hanya 10 ribu per kilogram, menjadi 20 ribu hingga 40 ribu per kilogram.

Sehingga untuk mencegah kepunahannya, Desa Olibu yang merupakan salah satu tempat yang dihuni kelelawar jenis ini, dijadikan permodelan desa konservasi satwa kelelawar yang dicanangkan oleh pemerintah desa setempat bersama LPPM Universitas Negeri Gorontalo.

Caranya adalah menjaga dan melestarikannya dengan kesepakatan konservasi yang dibangun di tingkat kelompok dan masyarakat.

Warga membangun laboratorium tangkar untuk kelelawar

Daima Suleman, tokoh masyarakat mengungkapkan, “Kelelawar di pantai panjang (Desa Olibu) kami jaga dengan melarang orang yang berburu kelelawar yang menggunakan cara yang tidak memenuhi praktik konservasi. Seperti menggunakan senjata api dan alat pancing,”

Cara-cara tersebut kata Daima, dapat mengakibatkan kelelawar akan berpindah tempat dan untuk kembali ke desa Olibu membutuhkan waktu 2 hinga 3 bulan.

“Pemandangan terindah jika saya dan keluarga saat berada di pantai panjang yakni mendengar suara kelelawar dan menyaksikan kelelawar-kelelawar bernyanyi saat keluar dari pohon bakau untuk mencari makan, dan itu terjadi saat matahari akan tenggelam di jam 18.00,” curhatnya

Selain itu, upaya lainnya yang dilakukan oleh masyarakat desa adalah dengan melakukan penanaman mangrove di wilayah In Situ. Merupakan wilayah utama konservasi seluas 3 ha dan menjadi habitat tempat kembalinya kelelawar setelah mencari makan. Penanaman mangrove sebagai upaya perluasan hutan dan memberi ruang yang luas bagi kelelawar beraktivitas dan beristirahat di siang hari.

Pertemuan warga membahas “Peningkatan Ekonomi Bagi Kelompok Pemanfaat Kelelawar Masa Pandemi COVID-19”

Juga kata Daima, dilakukan pengembangbiakkan kelelawar di Laboratorium Tangkar. Kelelawar Induk  yang bunting dan menyusui yang tertangkap dipindahkan ke lab tangkar dan dirawat hingga melahirkan. Pelepasan kelelawar ke habitatnya jika anak kelelawar sudah dapat terbang. Upaya mengembangbiakkan satwa kelelawar ini dalam lab tangkar bertujuan agar kelestariannya terjaga dan pemanfaatannya sebagai sumber ekonomi bagi kelompok pemanfaat kelelawar tetap berjalan.

Saat ini, yang diharapkan adalah, pengembangan konservasi kelelawar menjadi wisata kelelawar. Sehingga dapat mewujudkan Desa Olibu yang Mandiri. Sebab di desa ini sendiri, ada banyak potensi ekowisata yang bisa dieksplore dan dikelola sendiri oleh masyarakat setempat.