Untuk Indonesia

Petugas Pelabuhan Gorontalo Sita Puluhan Daging Anjing Ilegal Asal Wakai

Dulohupa.id-  Balai Karantina Pertanian (BKP) Ke­las I Gorontalo menyita puluhan kilo daging anjing ilegal asal Wakai, Sulawesi Tengah. Daging-daging tersebut masih dalam bentuk karkas utuh dengan berat lebih dari setengah ton. Informasi yang berhasil dihimpun, daging anjing tersebut rencananya akan dibawa ke Sulawesi Utara melalui jalur darat.

Kepala Kantor BKP Kelas II, Muhammad Sahrir mengungkapkan, bahwa daging anjing ilegal tersebut dibawa dengan kendaraan roda empat bak terbuka (pick up) berwarna hitam dari Wakai pada Kamis (15/1) kemarin. Alasan penyitaan kata Sahrir, karena pembawa Bahan Asal Hewan (BAH)  tersebut tidak bisa menunjukan Sertifikat Sanitasi (KH-12).

“Pejabat Karantina Hewan yang saat itu bertugas, meminta kelengkapan Sertifikat Sanitasi (KH-12) dari daerah asal. Namun, pemilik tidak dapat menunjukkan sertifikat yang dimaksud, sehingga petugas karantina langsung melakukan pemeriksaan isi kemasan. Pemeriksaan itupun disaksikan oleh Kepolisian Pelabuhan Gorontalo,”

Pihaknya sendiri kata Sahris, memang memiliki tugas mencegah tersebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina ( HPHK ) di dalam wilayah RI, serta pengawasan/pengenalian terhadap pangan dan mutu pangan. Sehingga kata dia, penyitaan daging anjing ini menjadi satu bentuk komitmen dalam menjamin ketenteraman batin masyarakat dalam mendapatkan pangan asal hewan yang aman dan sehat, melalui peningkatan pengawasan terhadap peredaran daging anjing.

“Sebagaimana kita ketahui, beberapa daerah di Sulawesi masyarakatnya ada yang mengonsumsi daging anjing. Namun melalui pelabuhan Gorontalo sebagai tempat pengeluaran, tentunya tak lepas dari timbulnya dampak sosio ekonomi seperti kekhawatiran kemungkinan daging tersebut akan dioplos dan beredar di Provinsi Gorontalo. Hal ini cukup beralasan, sebab bagi masyarakat Gorontalo sendiri, daging anjing memang tidak lazim untuk dikonsumsi,” kata Sahrir.

Ia pun mengingatkan kepada masyarakat, bahwa UU No. 21 Tahun 2019 tentang ka­rantina hewan, ikan dan tumbuhan sebagaimana Pasal 35, yang berbunyi bahwa setiap setiap orang yang memasukkan dan/atau mengeluarkan Media Pembawa dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia wajib:

a. Melengkapi sertifikat kesehatan bagi Hewan, Produk  Hewan, Ikan, Produk Ikan, Tumbuhan. Dan/atau Produk tumbuhan.

b. Mengeluarkan Media Pembawa melalui di  Tempat Pengeluaran yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat

c. Melaporkan dan menyerahkan Media Pembawa kepada Pejabat Karantina di tempat Pengeluaran yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat untuk keperluan Tindakan Karantina dan pengawasan dan/atau pengendalian.

Ia juga menerangkan, jika media pembawa BAH seperti daging anjing yang lalu lintasnya tidak diawasi dan tanpa melalui tindakan karantina dapat membahayakan,  apalagi risiko penyebaran Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK).

“Pada dasarnya apapun yang kita konsumsi haruslah menyehatkan dan tidak menjadi penyebab menyebarnya penyakit tertentu.  Selain merupakan media pembawa HPHK, Bahan Asal Hewan ini juga berisiko mudah rusak (perishable food), busuk dan terkontaminasi berbagai cemaran, sehingga faktor keamanan dan kebersihan menjadi isu utama yang harus diperhatikan,” pungkas Sahrir.

Reporter: Jebeng

Comments are closed.