Scroll Untuk Lanjut Membaca
NASIONAL

Peringati Hari HAM, GUSDURian Gorontalo Sosialisasikan Prespektif HAM ala Gus Dur

101
×

Peringati Hari HAM, GUSDURian Gorontalo Sosialisasikan Prespektif HAM ala Gus Dur

Sebarkan artikel ini

Dulohupa.id –Dalam rangka memperingati Hari Hak Asasi Manusia, Komunitas GUSDURian Gorontalo gelar Kajian Utama Pemikiran  (KUPIA) Gus Dur, bertajuk ; ‘ Gus Dur dan Hak Asasi Manusia’  bertempat di Sekretariat Paguyuban Buol di Gorontalo, Jumat, (20/I2/19).

Diskusi yang dimulai pada pukul I5.40 Wita tersebut dihadiri puluhan perserta dari berbagai organisasi paguyuban dan kepemudaan. Beberapa peserta yang hadir berharap, diskusi terkait pemikiran Gus Dur ini akan terus digelar disetiap paguyuban Mahasiswa di Gorontalo

Diskusi kali kedua yang di gelar ini, juga menghadirkan Koordinator GUSDURian Gorontalo Djemi Radji. Dalam pemparannya, Djemi mengatakan bahwa diskusi ini merupakan ruang untuk berbagi gagasan-gagasan Gus Dur terkait Hak Asasi Manusia.

Selain itu, ia juga memaparkan bagaimana Gus Dur dengan gigih memperjuangkan hak-hak kaum tertindas seperti Ahamdiyah dan Simpatis Partai Komunis Indonesia. Kasus-kasus persekusi terhadap kelompok Ahmadiyah sering terjadi dan memakan sejumlah korban, Gus Dur menjadi garda terdepan memastikan hak-hak mereka.

Pembatasan ruang gerak dan hidup para simpatisan PKI, Gus Dur bahkan mencabut Tap MPRS tetang pembubaran PKI dan penyebaran ajaran marxisme, komunis dan leninisme. Hal tersebut diungkapkan Djemi, Gus Dur tidak sedang membela mereka, melainkan memastikan hak-hak warga negara yang dirampas

“Jika kita melihat kebelakang, Gus Dur itu tidak sedang membela Ahmadiyah dan PKI, melainkan memastikan hak hidup, hak berkumpul dan berkeyakinan seperti yang telah diamanahkan oleh Undang-undang. Sikap Gus Dur sangat mendasar. Dan jika kita lihat dari aspek teologis, Gus Dur sedang mengingatkan kita, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang terus memuliakan manusia lainnya, tanpa membeda-bedakan. Karena menistkan manusia sama halnya menistakan sang penciptanya,” papar Djemi.

Sementra itu, Asrin Suleman Ketua organisasi paguyuban Kesatuan Aksi Mahiswa Buol di Gorontalo (KAMB-G) mengatakan perlunya prespektif Gus Dur soal HAM di jadikan sebagai sebuah Rujukan untuk melihat Dan menyikapi persoalan HAM di negeri ini lebih khusus di daerah yang di juluki sebagai serambih madinah.

Melegalkan konghucu sebagai sebuah Agama yang resmi di republik ini, adalah bukti bahwa Gus Dur betul-betul memahami pentingnya penghargaan terhadap Hak-hak setiap warga Negara dalam mengekspresikan Agamanya. “Olehnya itu, Penting bagi Kita semua untuk terus menggali Dan memahami pemikiran-pemikiran Gus Dur yang sampai Hari ini masi sangat relevant,” Tutup Asrin. (Erik)