Anak usia dini merupakan anak yang memiliki rentan usia 0-6 tahun yang dimana pada usia ini merupakan masa penting untuk anak dalam proses tumbuh dan berkembang.
Seperti dalam teori Tabula Rasa oleh John locke yang mengungkapkan bahwa anak lahir ibarat sebuah “kertas kosong” yang mana membutuhkan orang dewasa untuk mengisi dan mewarnainya.
Berdasarkan teori tersebut dapat diketahui pentingnya peranan orang tua maupun lingkungan sekitar dalam memberikan stimulasi pada sejak usia dini. Anak usia dini memiliki enam aspek perkembangan yang perlu stimulasi, keenam aspek perkembangan tersebut diantaranya:
1. Nilai agama dan moral yaitu merupakan kemampuan untuk memahami nilai-nilai dan norma seperti kemampuan menghormati orang lain dan kesadaran akan benar dan salah.
2. Fisik motorik yaitu perkembangan tubuh dan otot melalui gerakan.
3. Kognitif yaitu perkembangan pikiran, pengetahuan dan kemampuan berfikir.
4.Bahasa yaitu perkembangan kemampuan berkomunikasi.
5.Sosial emosi yaitu perkembangan kemampuan bersosialisasi dan mengelola emosi.
6. Seni merupakan perkembangan kemampuan dalam mengembangkan ide dan kreatifitas.
Dalam mengoptimalkan perkembangan tersebut perlunya kesadaran orang tua dan guru untuk bekerja sama dan mendiskusikan hal-hal yang perlu diberikan dan tidak perlu diberikan sesuai dengan kebutuhan anak.
Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari yang tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, suatu proses evolusi manusia dari ketergantungan menjadi lebih mandiri.
Perkembangan pada anak usia dini dapat diartikan sebagai serangkaian perubahan yang terjadi pada anak dalam berbagai aspek fisik, mental, sosial, dan emosional. Yang memungkinkan mereka untuk belajar, berinteraksi dengan orang lain, dan memahami dunia disekitar meraka.
Proses ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan, termasuk pengalaman awal yang mereka dapatkan dari keluarga, pengasuh, dan lingkungan sekitar.
Untuk membantu pencapaian dalam perkembangan anak perlu adanya alat untuk memahami, mamantau dan mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak secara optimal yang disebut dengan asesmen.
Asesmen adalah kegiatan mengumpulkan dan mengolah informasi untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan seseorang atau sesuatu.
Melalui asesmen, pendidik dan orang tua dapat mengetahui sejauh mana tahapan perkembangan yang telah dicapai oleh anak. hasil asesmen sangat membantu mengidentifikasi potensi yang dimiliki anak, sekaligus mendeteksi hambatan atau kesulitan yang mungkin dihadapi sehingga dapat segera diberikan intervensi atau dukungan yang sesuai.
Asesmen juga memungkinkan perencanaan pembelajaran yang lebih efektif dan tepat sasaran, dengan mempertimbangkan kebutuhan serta karakteristik individual anak.
Dari penjelasan di atas dapat di katakana bahwa asesmen berperan penting sebagai alat mengevaluasi anak untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan anak dari yang belum berkembang, sampai yang sudah berkembang dengan baik. Contohnya saat dilakukannya pengamatan di salah satu lembaga yang berada pada salah satu kecamatan yang ada di kota gorontalo.
Lembaga tersebut melakukan asesmen kepada anak dengan memberikan dua media yaitu buah tomat yang dimana di gunakan dengan cara anak menghitung jumlah banyaknya tomat, mengelompokan berdasarkan warna, membandingkan besar kecil dari buah tomat serta mengetahui manfaat maupun kegunaan dari buah tersebut.
Selanjutnya ada biji jagung yang di gunakan sebagai alat mewarnai dengan menggunakan pola dari gambar buah tomat. Dari kegiatan tersebut banyak aspek perkembangan yang dapat terstimulasi dari bahasa (cara anak menyampaikan dan menjawab apa yang di ketahui soal tomat), kognitif (cara anak menganalisis dengan bentuk buah tomat yang berbeda), sensorimotor (cara anak mengkeordinasi antara mata dan tangan untuk menyusun biji jagung sesuai pola gambar buah tomat), dan sosial emosional (saat anak dengan sabar mengelompokan tomat sesuai dengan warna).
Perlunya memberikan lebih dari satu kegiatan pada setiap harinya agar memudahkan guru untuk melakukan asesmen yang di mana pada kegiatan pertama anak belum mampu untuk melakukan bisa di asah kembali pada kegiatan selanjutnya. dari hasil wawancara guru menyampaikan bahwasanya dalam mengasesmen anak usia dini di lakukan setiap hari namun dengan jumlah anak yang di kelompokan menjadi lima anak pada setiap harinya agar lebih memudahkan guru untuk mengoptimalkan penilaian terhadap anak usia dini.
Dengan adanya tulisan ini diharapkan asesmen mampu untuk mendorong kolaborasi yang lebih baik antara orang tua dan pendidik. Serta asesmen juga bukan hanya sekedar alat evaluasi namun sebagai upaya penting dalam memantau perkembangan pada anak secara menyeluruh. Dengan dilakukannya asesmen secara optimal maka dapat mendukung perkembangan kognitif, fisik, bahasa, sosial, dan emosional anak. secara keseluruhan asesmen diharapkan menjadi langkah nyata dalam memastikan bahwa setiap anak memiliki peluang yang sama untuk berkembang sesuai dengan potensi mereka.
Penulis:
Marsya Cikita dan Maghfirah R Mustapa (Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo)
Nunung Suryana Jamin (Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo)












