Untuk Indonesia

Miliki Potensi Alam yang Berlimpah, Petani Desa Tonala Mampu Raup Jutaan Rupiah

Dulohupa.id- Berada di puncak Gunung Utara Kecamatan Telaga Biru menjadikan Desa Tonala memiliki potensi alam yang berlimpah untuk dikelola masyarakatnya. Dari luas wilayah desa ini, setidaknya 60 persennya merupakan lahan pertanian.

Ada setidaknya beberapa potensi yang menjanjikan untuk dikelola, misalnya pohon aren yang bisa dimanfaatkan untuk membuat gula merah, lalu ada kemiri, jagung, cabai, dan cengkeh.

Ani Masiri salah satu ketua kelompok tani di desa tersebut kepada Dulohupa.id mengaku memiliki 4 hektar luas tanaman jagung. Setiap kali melakukan panen, ia mampu menghasilkan keuntungan bersih sebesar 20 juta hingga 30 juta rupiah.

Tidak hanya jagung, wanita yang bisa disapa Ma’Aya ini juga menanam cabai. Dalam seminggu, ia bisa memanen 50 hingga 60 kilo cabai. Dengan harga cabai perkilo yang mencapai 50 ribu rupiah, artinya ia mampu menghasilkan 2,5 juta hingga 3 juta rupiah. Itu belum termasuk hasil dari pohon aren yang mampu menghasilkan 12 kilo gula. Harga satu kilo ia jual 15 ribu rupiah.

“Untuk Kemiri itu bisa sampai 50 kilo perhari dengan harga jual yang belum terkupas 5 ribu perkilogram dan yang sudah terkupas itu 25 ribu perkilogramnya. Untuk penjualannya tidak menentu berapa banyak yang habis dalam sehari, tergantung dari kebutuhan dari pedagang itu sendiri,” jelasnya.

Kepala Desa Tonala, Sumarno Antule saat dimintai tanggapan terkait potensi alam di desa tersebut menjelaskan, dengan terbukanya akses jalan ke desa ini, maka akan lebih menambah penghasilan para petani yang ada didesa ini.

Akses yang mudah kata Sumarno, membuat petani tidak harus susah-susah datang ke kota memasarkan hasil pertanian mereka. Sebab, para pedagang bisa datang langsung ke desa tersebut untuk membeli hasil bumi mereka.

“Jadi para pedagang baik dari Kota Gorontalo Kabupaten Gorontalo serta Bone Bolango yang sudah langsung datang kesini. Karena dengan datang langsung ke petani, mereka akan mendapatkan hasil pertanian dengan lebih murah, dan ketika dijual kembali akan mendapatkan keuntingan yang lebih besar,” tandasnya.

Terakhir Sumarno Antule mengungkapkan, saat ini peremeritah desa terus berupaya untuk mendapatkan anggara selain dana ADD untuk mempermudah akses pertanian di desa tersebut. Hal itu juga untuk memotivasi dan mempermudah masyarakat dalam mengelola hasil pertanian mereka.

“Jadi selain melalui dana ADD, kami juga berupaya mendapatkan anggaran baik daripemerintah Kabupaten dan provinsi untuk membuka dan meningkatkan akses jalan di desa ini, utamanya jalan tani,” tutupnya.

Reporter: Dedi Henga

Comments are closed.