Matikan Aplikasi, Driver Grab Car di Gorontalo Ramai-ramai Mogok Beroperasi

oleh -71 Dilihat
Drive Grab Car Mogok
Para Pengemudi (Driver) Grab Car di Gorontalo memperlihatkan aplikasi layanan yang sudah dimatikan (OffBid) sejak hari ini. (Foto: Sumito/Dulohupa)

Dulohupa.id – Para driver Grab Car atau taksi online di Gorontalo beramai-ramai mogok beroperasi dengan mematikan aplikasi layanan (Offbit), Kamis (08/9/2022).

Salah satu pengemudi (Driver) Grab Car, Anwar Yusuf mengaku aksi mogok telah dilakukan sekitar 200 pengemudi mobil online mulai hari ini. Aksi ini sebagai bentuk kekecewaan kepada pihak aplikator (Grab) dan pemerintah yang hingga kini belum menyesuaikan kenaikan tarif kepada taxi online, pasca kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

“KIta mulai berhenti beroperasi sampai tiga hari kedepan, jika tidak mendapatkan tanggapan kita akan melanjutkan mogok mematikan layanan” lanjut Anwar.

Sebelumnya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengumumkan kenaikan tarif ojol (Ojek Online) dan bus Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP) kelas ekonomi. Namun tidak ada dibahas terkait penyesuaian bagi tarif khusus untuk taksi online.

Taksi online masuk dalam Angkutan Sewa Khusus (ASK) yang ada aturan tersendiri dan kewenangannya ada di pihak aplikator yang aturannya dikembalikan di masing-masing daerah.

Selain menuntut kenaikkan tarif, mereka juga mengeluhkan besarnya potongan yang dibebankan pihak aplikator kepada para pengemudi sebesar 20 persen.

Mereka menuntut kepada pihak Grab Driver Center (GDC) untuk menurunkan potongan bagi hasil menjadi 15 persen atau kembali ke metode sebelumnya yakni bagi hasil 8 -12 persen.

“Potongan 20 persen yang dikeluarkan oleh aplikasi sangat besar, ditambah lagi jumlah penumpang tidak sesuai dengan pengeluaran pembelian BBM,” ucap Anwar.

Mereka juga menuntut kepada pihak GDC cabang Gorontalo agar membuka layanan di wilayah Bone Bolango dan wilayah Isimu.

“Jadi kita tidak ada harapan lagi akan mendapatkan penumpang di wilayah Bone Bolango dan wilayah isimu sana, karena layanan di lokasi itu dimatikan, semenjak aplikasi-aplikasi tandingan masuk di Gorontalo. Kita bahkan bingung kenapa Grab mematikan layanan di lokasi itu,” tutur Anwar.

Sementara kata Anwar, pengemudi online juga dilarang memasuki kawasan seperti Mall, rumah sakit serta Bandara Djalaluddin Gorontalo.

“Padahal kami juga di posisinya mencari penghasilan seperti orang-orang pada umumnya, kenapa kami para taksi maupun ojek online dilarang. Semua keluhan ini yang harus dievaluasi pihak aplikator dan pemerintah daerah,” tegas Anwar.

Reporter: Sumitro