Scroll Untuk Lanjut Membaca
BUDAYA

Malam Qunut di Batudaa dan Ritual Mandi Dosa

×

Malam Qunut di Batudaa dan Ritual Mandi Dosa

Sebarkan artikel ini
Warga membeli pisang dan kacang/FOTO: Nurfadillah Ibrahim

Dulohupa.id- Masyarakat Batudaa, Kabupaten Gorontalo memiliki tradisi unik pada hari ke-16 Ramadhan. Tradisi itu disebut malam Qunut, dan ditandai pelaksanaan doa qunut pada akhir salat Tarawih.

Menariknya, malam qunut ini juga dirayakan selama tiga hari, dengan tradisi makan kacang dan pisang. Tak heran, banyak pedagang yang lantas berjualan kacang dan pisang di lapangan setempat. 

Menelusuri sejarah tradisi ini, dulohupa.id menemui Konu Harun, seorang warga setempat. Pria berusia 67 tahun itu bercerita, bahwa tradisi malam qunut sendiri sudah berlangsung sejak zaman dulu. Berawal dari sebuah ritual mandi dosa, yang diikuti oleh warga zaman dulu untuk menyucikan diri. 

“Dulunya ada sumur tua yang dijadikan ritual mandi dosa. Sebagian orang percaya bahwa ritual itu dapat menghapus dosa setiap umat muslim,” katanya.

Ritual itu pun katanya, banyak diikuti oleh warga yang berasal dari setiap kecamatan di Gorontalo. Memanfaatkan momen itu, para pedagang di waktu itu pun, mencoba berjualan pisang dan kacang. Rata-rata mereka masyarakat yang tinggal di pegunungan. 

Namun seiring waktu, ritual tersebut kemudian hilang dan yang bertahan hanyalah aktivitas makan kacang dan pisang. Hal itu pun katanya, karena para sesepuh pada saat itu telah wafat, sementara tak ada yang mewarisi ritual mandi dosa tersebut. Apalagi, orang-orang yang kemudian mulai berpikiran, jika dosa tidak mungkin hilang hanya dengan mandi saja. 

Saat ini pun, meski yang tersisa hanyalah tradisi makan pisang dan kacang, namun banyak masyarakat yang masih mengapresiasi tradisi tersebut. Sebab, kini digunakan oleh masyarakat setempat untuk bersilaturahmi dengan keluarga.

Dari pantauan Dulohupa.id, Selasa (27/04) Malam, Malam Qunut dilaksanakan di lapangan Kecamatan batudaa Kabupaten Gorontalo. Warga berbondong-bondong datang menikmati tradisi makan kacang tersebut bersama keluarga. 

“Saya datang kesini untuk menyaksikan tradisi Malam Qunut, karena jarak dari rumah ke lapangan Batudaa sangat dekat jadi saya setiap tahun berkunjung ke sini,” ujar Iyan. 

Pengunjung pun tidak hanya datang dari kawasan Batudaa, namun dari daerah lain, misalnya warga Paguyaman. 

“Saya sangat senang dengan adanya Malam Qunut ini. Saya datang sebelum Magrib karena saya tahu jalan pasti akan macet jadi saya datang lebih awal. Saya datang dari Paguyaman hanya untuk melihat festival Makan Pisang dan kacang yang dilaksanakan di Kecamatan Batudaa,” ujar Pria yang kerap disapa Tomi itu. 

Reporter: Nurfadillah Ibrahim