Dulohupa.id – Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo, Muhamad Jeksen meninggal dunia dunia seusai mengikuti kegiatan Diksar Mapala. Belum ada keterangan lebih lanjut, terkait penyebab kematiannya.
Namun sebelum menghembuskan nafas terakhir, dirinya sempat curhat ke senior organisasinya di Paguyuban Muna (Sulawesi Tenggara). Elfin, senior paguyuban Jeksen menjelaskan bahwa sebelum turun ke lokasi Diksar, korban terlebih dahulu mengikuti latihan fisik selama 4 hari yang di adakan Mapala tersebut, yaitu dari 15 sampai 18 September 2025.
Menurut Elfin, selanjutnya pada Jumat (19/09/2025), korban turun ke lokasi kegiatan Diksar yang bertempat di Desa Tapadaa, Kecamatan Suwawa Tengah, Kabupaten Bone Bolango. Dimana katanya terdapat 8 orang peserta dalam kegiatan itu. Menurut Elfin, korban turun mengikuti kegiatan tersebut dalam kondisi sehat.
“(saat berangkat korban dalam kondisi sehat?) sehat,” ujar Elfin kepada awak media, Senin (22/09/2025) malam.
Kata Elfin, pelaksanaan diksar berlangsung selama seminggu, dimana 4 hari latihan fisik dan 3 hari kegiatan dilapangan atau dari 19 sampai 21 September 2025.
Setelahnya menurut Elfin, korban terlihat dalam kondisi tidak baik-baik saja semenjak masih berada di lokasi diksar, yang mana terlihat dari foto usai penyamatan slayer kepada korban.
“Ada foto dorang setelah disematkan slayer, si korban sudah ada pembengkakan dileher. Dan itu tidak ada inisiatif dari panitia untuk melakukan penanganan, diantar ke rumah sakit atau apa. Malahan saat teman saya (Amar) menjemput, tidak ada panitia yang mengantarkan dia kedepan,” ucap Elfin.
Sementara itu, ditambahkan juga salah satu senior Jeksen, yaitu La Ode Muhamad Amar yang menjemput korban di sekretariat Mapala pada Minggu (21/09/2025) malam usai kegiatan diksar, menyebutkan bahwa korban saat ditemui memang dalam kondisi tidak baik.
“Tadi malam saya jemput itu, dia chat saya. Dia bilang katanya kak jemput saya, saya sakit bawa saya ke rumah sakit,” kata Amar.
“Pas tiba disana di sekret mapala, kondisinya sudah tidak baik, mukanya sudah bengkak tidak berbentuk, terus dia berbicara sudah tidak bersuara,” lanjutnya.
Menurut Amar, saat dijemput wajah korban memang sudah bengkak hingga ke bagian lehernya.
“Pas saya jemput memang so lebam itu. Dari wajah sampai leher. Lidahnya itu keluar nanti sudah subuh karena sudah naik sekali bengkaknya,” jelas Amar.
“(saat dijemput korban ada muntah?) tidak, cuman dia mengeluh katanya sudah sesak bernafas,” lanjutnya.
Dijelaskan Amar, dirinya menjemput korban pada Minggu malam sekitar pukul 20.00 wita di sekret Mapala, dan kemudian Amar melarikan korban ke rumah sakit. Awalnya kata Amar, Jeksen dibawanya ke RS Bunda, namun karena adanya keterangan dari pihak rumah sakit bahwa perlengkapan yang belum memadai dan kamar rumah sakit sementara full, kemudian dilarikannya ke RS Aloi Saboe.
Di RS Aloi Saboe, Jeksen kemudian mendapatkan perawatan. Namun, takdir berkata lain, sekitar pukul 08.00 wita pada Senin pagi, Muhamad Jeksen dikabarkan telah meninggal dunia.
Saat ini, Jeksen telah dipulangkan ke kampung halamannya di Kelurahan Wapunto, Kecamatan Duruka, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara menggunakan mobil ambulans. Dari informasi yang dihimpun, kurang lebih perjalanan akan memakan waktu selama 3 hari 3 malam untuk sampai.
Reporter: Yayan











