Untuk Indonesia

Klarifikasi Keluarga yang Ambil Paksa Jenazah Pasien COVID-19 di RS Aloe Saboe

Dulohupa.id- Keluarga jenazah pasien COVID-19 yang sebelumnya diberitakan mengambil paksa jenazah di Rumah Sakit Aloe Saboe (RSAS) Gorontalo, memberikan klarifikasi terkait kronologi kejadian sebenarnya kepada redaksi dulohupa.id, Kamis (11/2).

Pria bernama Ronal Husain itu melalui sambungan telepon menceritakan, bahwa tindakan keluarga menolak pemakaman jenazah dengan prosedur COVID-19, karena keluarga telah mengantongi hasil swab COVID-19 pertama dengan hasil negatif.

“Siapa yang mau tanggung jawab jika nenek saya (almarhum) yang terlanjur dimakamkan dengan prosedur COVID-19, namun ternyata hasil swab kedua itu negatif,” ungkap Ronal Husain.

Ia pun menjelaskan, bahwa sebetulnya pihak RSAS telah memperbolehkan untuk keluarga membawa jenazah pasien tersebut, namun dengan syarat jenazah harus dibawa dengan keadaan telah dibersihkan dan telah dikafani.

“Saya sudah legowo sebenarnya, mereka sudah menyampaikan kepada saya ikuti dulu prosedur RS. Mayat itu dorang mo kase bersih di situ , setelah itu kase pake baju mayat baru bawa pulang. Saya sudah legowo di situ. Walaupun keluarga saya tidak mau,”

Baca Juga:  Kapolri Resmikan Pembangunan 50 Rumah untuk Anggota Polisi Korban Gempa Sulbar

Tapi kemudian kata Husain, ia berubah pikiran setelah tahu bahwa semua petugas kesehatan (nakes) yang melakukan prosedur tersebut adalah pria. Ia pun kemudian menyampaikan keberatan dan tidak terima. Sebab mestinya, yang melakukan itu adalah nakes perempuan.

“Ini perawat dorang somo kase kaluar saya pe nenek pe baju, dorang kase kaluar tapi yang kase kaluar laki-laki. Ada perempuan satu orang itu ada haid. (Jadi) saya yang awalnya mau dengan prosedurnya yang tadi, jadi berubah pikiran sama sekali tidak mau,” kata Husain dengan aksen lokal.

Ia pun memaksa untuk membawa jenazah tersebut. Namun kata dia, ia sudah mengomunikasikan hal itu kepada kepolisian yang berada di RS. Makanya ia membantah jika mengambil pasien dengan cara diam-diam seperti yang diungkapkan oleh Kepala Sub Bagian Informasi RSAS Gorontalo, Sumardin Suratinoyo kepada Dulohupa.id kemarin. Apalagi kata Husain, pihak RS membuntuti mereka dari belakang saat membawa jenazah tersebut.

Baca Juga:  Toko Bahan Pertanian di Bulango Selatan Ludes Terbakar

Lalu sebelum membawa jenazah pun, ia sudah meminta surat yang mesti ditandatangani oleh pihak keluarga yang menolak untuk jenazah dimakamkan dengan prosedur COVID-19. Namun, rupanya pihak RS menurut dia menolak menyerahkan surat itu, dan justru menyerahkannya setelah jenazah telah dibawa. Keributan saat pengambilan paksa pun kata dia, dipicu oleh seorang oknum petugas keamanan akan memukul dirinya.

“Nah di situ ada petugas yang mau mencoba memukul saya, makanya terjadi keributan itu. Dan saya bawa ini (jenazah) dari ruangan, dorang ada di belakang. Jadi dorang tau saya bawa (jenazah) ini,” ungkapnya.

Reporter: Mega

Comments are closed.