Dulohupa.id – Musim kemarau yang melanda Gorontalo tidak hanya berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Kondisi tersebut juga mulai dirasakan sektor pertanian, meski dampaknya terhadap tanaman padi disebut masih relatif kecil.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, total luas panen padi di Provinsi Gorontalo mencapai 53.897 hektare, dengan produksi gabah kering giling (GKG) sebanyak 281,17 ribu ton.
Luas panen tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo. Kabupaten Gorontalo menjadi daerah dengan luas panen terbesar, yakni 24.155 hektare, disusul Kabupaten Pohuwato 8.238 hektare, Kabupaten Boalemo 7.883 hektare, Kabupaten Gorontalo Utara 6.807 hektare, Kabupaten Bone Bolango 5.121 hektare, dan Kota Gorontalo 1.693 hektare.
Dari puluhan ribu hektare lahan padi tersebut, sebagian kecil di antaranya terdampak kondisi kekeringan.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, Muljady D. Mario, mengatakan luas lahan persawahan yang terdampak kekeringan saat ini tidak sampai 100 hektare.
“Kalau lahan persawahan tidak sampai 100 hektare dari sekian puluh ribu hektare itu,” ujar Muljady kepada Dulohupa saat ditemui, Kamis (13/8/2026).
Meski mengalami dampak kekeringan, Muljady memastikan tidak ada lahan padi yang masuk kategori puso atau berpotensi mengalami gagal panen.
“Jadi sedikit, dan tidak ada yang puso. Yang ada terdampak,” ucapnya.

Selain tanaman padi, sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai dan tomat juga ikut merasakan dampak musim kemarau.
Namun, menurut Muljady, luas tanaman hortikultura yang terdampak relatif kecil. Kondisi tersebut karena sebagian besar tanaman hortikultura berada di lahan yang dekat dengan sumber air sehingga masih memungkinkan mendapatkan penyiraman secara manual.
“Ada juga tanaman yang lain. Misalnya cabai, tomat gitu kan. Tapi biasanya kalau hortikultura kan skala kecil dan bisa diairi dengan manual,” ungkapnya.
“Kalau tanaman cabai, tomat kan biasanya di dataran dan dekat-dekat tempat air. Jadi mereka bisa nyiram,” lanjut Muljady.
Sementara itu, tanaman jagung menjadi salah satu komoditas pertanian yang mendapat perhatian dalam kondisi kemarau saat ini. Lahan jagung yang terdampak disebut mencapai sekitar 2.900 hektare.
Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo berharap kondisi kemarau tidak berlangsung lebih lama sehingga dampaknya terhadap sektor pertanian tidak semakin meluas.
Muljady mengatakan pihaknya masih mengacu pada estimasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa periode kemarau diperkirakan berlangsung hingga September 2026.
“Estimasi BMKG itu sampai September, kami masih megang itu (prediksi puncak kemarau). Mudah-mudahan sampai September sudah ada hujannya,” tutup Muljady.
Pemerintah pun diharapkan terus memantau kondisi lahan pertanian, terutama wilayah yang bergantung pada ketersediaan air untuk menjaga produktivitas tanaman selama musim kemarau.
Reporter: Yayan











