Scroll Untuk Lanjut Membaca
PERISTIWA

Keluarga Jenazah Pasien Covid-19 Mengamuk di RSTN Boalemo

×

Keluarga Jenazah Pasien Covid-19 Mengamuk di RSTN Boalemo

Sebarkan artikel ini
Seorang wanita tampak mengamuk di depan ruang isolasi Covid-19 RSTN Boalemo/sc
Seorang wanita tampak mengamuk di depan ruang isolasi Covid-19 RSTN Boalemo/sc

Dulohupa.id- Sejumlah keluarga jenazah pasien Covid-19 di RS Tani dan Nelayan (RSTN) Boalemo, mengamuk di depan ruang isolasi RS tersebut. Dari video yang direkam oleh salah satu keluarga, terdengar bahwa amukan itu dipicu oleh penolakan keluarga pasien terhadap pemulasaran jenazah sesuai protokol kesehatan (protkes) Covid-19.

Nonton videonya di sini: 

“Kase kaluar dia (jenazah). Kasian so dari pagi itu meninggal. Kinapa ngoni tidak mo kase (kenapa kalian izinkan kami ambil),” ungkap salah seorang warga yang merekam kejadian tersebut. 

Kejadian yang terekam dalam tiga video dengan durasi masing-masing satu menit itu, memperlihatkan para personel polisi serta satpol-PP tengah memblokade pintu masuk ruang isolasi tempat pasien itu meninggal. 

Tampak juga seorang wanita sedang mengamuk dengan menunjuk-nunjuk personel yang sedang berjejer. Wanita itu dengan emosi memaksa untuk membawa pulang jenazah, dan meminta pemakaman seperti biasa. 

Karena situasi yang semakin memanas, seorang personel polisi dan sejumlah anggota satpol-PP, tampak menenangkan keluarga jenazah pasien Covid-19 yang mengamuk tersebut.

Saat dikonfirmasi terkait hal tersebut, Direktur RSTN Boalemo, Rahmawati Dai mengatakan, bahwa memang keluarga jenazah memaksa untuk bisa melakukan pemulasaran jenazah non-protkes.

Namun menurutnya, karena pasien tersebut meninggal di ruang isolasi Covid-19, maka akan sangat berbahaya jika pemulasaran ditangani keluarga. Sebab menurutnya, akan ada potensi penularan Covid-19. 

“Pasien ini meninggal di ruang isolasi Covid-19 pada tanggal 10 Agustus 2021, pukul 11.10 WITA, karena pasien ini meninggal ruang isolasi, maka kami harus melakukan prosedur pemulasaran Covid. Namun pada kondisi ini, ada keluarga yang menolak,” ungkap Rahmawati. 

Meski begitu kata Rahmawati, bahwa penolakan itu bukanlah dilakukan oleh keluarga inti. Sebab pada dasarnya, keluarga inti pasien sudah mengikhlaskan pemulasaran sesuai Covid-19. 

“Tapi alhamdulillah, berkat bantuan satgas Covid-19 serta personel TNI dan Polri, dan kapolres hadir, pak camat, sehingga permasalahan ini bisa diselesaikan dengan secara baik, dan keluarga pasien ini menerima pemulasaran jenazah sesuai prosedur Covid-19,” tutup Rahmawati. 

Reporter: Hendrik Gani