Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALOHEADLINE

Jurnalis Gorontalo Bawa Keranda, Simbol Matinya Kebebasan Pers

23
×

Jurnalis Gorontalo Bawa Keranda, Simbol Matinya Kebebasan Pers

Sebarkan artikel ini
Gorontalo Jurnalis
Keranda yang dibawa Jurnalis Gorontalo diletakan di depan pintu gerbang rumah jabatan Gubernur Gorontalo. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Keranda putih menjadi simbol dalam demonstrasi yang dilakukan oleh ratusan jurnalis Gorontalo pada penolakan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran, Sabtu (25/5/2024) sore.

Keranda putih tersebut diarak oleh ratusan jurnalis dari depan rumah dinas Gubernur Gorontalo menuju bundaran saronde Kota Gorontalo.

Wawan Akuba, Ketua Aji Gorontalo menyampaikan bahwa keranda putih tersebut merupakan simbol matinya kebebasan pers. Dimana menurutnya saat ini kebebasan pers mulai diobrak-abrik oleh anggota DPR melalui RUU Penyiaran, padahal mereka mungkin tidak paham dengan kerja-kerja jurnalistik.

“Tadi keranda kita bakar sebagai simbol matinya kebebasan pers, simbol kebebasan pers direbut dari hak jurnalis kita. Dan tadi membakar keranda itu adalah simbol bahwa jangan sampai kebebasan pers direnggut oleh anggota DPR yang sengaja menyusupkan pasal pasal yang bermasalah dalam RUU penyiaran,” kata Wawan Akuba.

Menurutnya, Revisi yang awalnya diharapkan akan menciptakan keadilan bagi industri penyiaran di era kemunculan media-media digital baru, kini justru dikhawatirkan akan mengancam kebebasan pers.

Salah satu yang menjadi kontroversi adalah larangan menayangkan konten eksklusif investigasi, yang tercantum dalam Pasal 50B ayat 2.

Untuk penayangan konten liputan investigasi, Wawan mengatakan bahwa hal itu bertentangan juga dengan Pasal 4 Ayat 2 UU Pers.
Kata Dia, dalam aturan itu jelas tertuang bahwa terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pemberedelan, maupun pelarangan penyiaran.