Dulohupa.id – Tanggal 28 Oktober 2025 merupakan peringatan hari sumpah pemuda yang ke-97. Sejak dulu, pemuda merupakan salah satu instrumen terpenting dalam merebut kemerdekaan dan bagian dari perjalanan panjang pembangunan bangsa ini.
Di setiap sudut kolong negeri, pemuda menjadi motor penggerak bangsa Indonesia. Banyak kiasan mutiara yang menggambarkan pentingnya peran pemuda ini, sebut saja salah satunya “masa depan Indonesia ditangan pemuda”.
Cerita panjang perjuangan kaum muda ini, tak lagi dapat dinafikan. Seperti di Gorontalo, juga masih kental baik dalam ingatan ataupun catatan sejarah yang terus terjaga hingga kini. Dari sekian banyak, sosok Nani Wartabone menjadi salah satu bukti perjuangan pemuda telah lama dilakukan.
Jejak-jejak perjuangan ini masih utuh tersimpan di salah satu tempat yaitu Museum Gorontalo (Museum Popa Eyato). Saat dikunjungi, Konservator Museum Gorontalo, Fiky Hisain sedikit menceritakan perjalanan perjuangan pemuda yang ada di Gorontalo.
Dimulai dari perseteruan dua kerajaan sekitar tahun 1485 sampai 1672 atau kurang lebih 2 abad, dipelopori Hohuhu Popa dari Kerajaan Limboto dan Khatibi Daa/Khatib Besar Eyato, melalui dua cincin yang ditautkan dibuang ke Danau Limboto sebagai tanda bersatunya dua kerajaan atau perjanjian perdamaian.
Jauh setelahnya, nusantara kemudian mendapat ancaman dan penjajahan dari bangsa luar. Perlawanan gencar dilakukan untuk merebut kemerdekaan. Tak terkecuali di Gorontalo, peristiwa Patriotik 23 Januari 1942 menjadi bukti nyata perjuangan masyarakat dan pemuda.
Lebih lanjut disampaikan Fiky, dicatatkan dalam sejarah, kabar kekalahan tentara sekutu membuat Belanda bersiasat membakar bangunan dana aset strategis di Gorontalo. Untuk menghadapi rencana tersebut, tokoh-tokoh Gorontalo membuat rapat. Tanggal 22 Januari, Belanda membakar kapal motor kalio dan gudang kopra di pelabuhan. Nani Wartabone dan tokoh-tokoh lainnya melakukan pembinaan pada pemuda dan hari Jumat tanggal 23 Januari, kelompok pemuda dari Suwawa dipimpin Nani Wartabone mengepung Kota Gorontalo sejak pagi.
Pasukan Nani Wartabone melakukan aksi pemberontakan dengan mendatangi kantor polisi dan menangkan komandannya, kemudian bergerak menuju rumah asisten residen Belanda (Rudis Gubernur Gorontalo sekarang) dan menggantinya dengan merah putih dan kemudian lagu kebangsaan dikumandangkan.
Setelahnya, pada momen proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta, tak ada orang Gorontalo yang mengetahui informasi tersebut. Disebutkan Fiky dalam catatan sejarah, sepulangnya Nani Wartabone dari tanah Jawa, kemudian mengumpulkan masa dan mengumumkan kemerdekaan RI pada 17 September 1945. Bersama dengan masyarakat, Nani Wartabone mendatangi kantor pos karena menganggap pimpinan kantor pos sengaja menutupi informasi proklamasi kemerdekaan RI.
Mereka merobek bendera Belanda bagian bawah yang berwarna biru mengubah bendera tersebut menjadi bendera merah putih. Kemudian mereka berarak ke lapangan depan rumah asisten residen Belanda (lapangan Taruna Remaja) melakukan upacara pengumuman kemerdekaan lalu mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Perjuangan pemuda dan masyarakat tak hanya sampai situ, perlawanan kembali dilakukan. Pada 17 Februari 1958 dilakukan pertemuan umum raksasa dilapangan Sario Manado, dimana Letkol D.J Somba selaku panglima/gubernur militer Komando Daerah Militer Sulawesi Utara-Tengah atas nama rakyat dan tentara Sulutteng membacakan teks pemutusan hubungan dengan pemerintah pusat di Jakarta. Keputusan ini tidak diterima oleh rakyat Gorontalo, namun seruan untuk kembali ke pemerintah pusat tidak diindahkan. Permesta mulai menjatuhkan slogan/pamflet, melakukan pengeboman disejumlah tempat termasuk Gorontalo dan melakukan penculikan pada masyarakat yang tidak sepaham dengan mereka.
Pada 22 Mei 1958, pasukan Rimba Nani Wartabone berhasil menghalau pasukan Permesta. Kemudian pada pertengahan Juni 1958, Nani Wartabone berhasil merebut kembali pemerintahan Gorontalo dari tangan Permesta dengan bantuan tentara Batalyon 512 Brawijaya dan pasukan Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin.
Perjalanan panjang terus dilakukan, hingga pada fase di deklarasikannya pembentukan Provinsi Gorontalo pada 23 Januari 2000. Ini menjadi cerita singkat bagaimana peran pemuda bersama masyarakat yang ada di Gorontalo dalam merebut kemerdekaannya.
Momen peringatan 28 Oktober 2025 ini menjadi momen merefleksi kembali semngat pemuda-pemudi, karena ditangan pemuda lah arah bangsa kedepan ditentukan.
Reporter: Yayan












