Dulohupa.id – Dampak musim kemarau 2026 dirasakan tidak sama di seluruh wilayah Gorontalo. Pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut menunjukkan ketimpangan yang nyata, dengan beberapa daerah sudah berada dalam kondisi mengkhawatirkan.
Dari keterangan Forecaster On Duty (Prakirawan Cuaca yang sedang dalam jam tugas) BMKG Gorontalo saat dikonfirmasi Dulohupa pada Jumat (18/9/2026), bahwa dari pemantau, sejumlah kabupaten/kota di Gorontalo tercatat berstatus rawan hingga sangat rawan kekeringan.
“Tingkat kekeringan meteorologis di Gorontalo tidak merata dan bervariasi antarwilayah. Berdasarkan pemantauan HTH berturut-turut, beberapa wilayah tercatat mengalami kondisi paling mengkhawatirkan,” tulis Forecaster On Duty melalui Whatsapp.
Kabupaten Gorontalo, Gorontalo Utara, Kota Gorontalo, dan Bone Bolango mencatat HTH lebih dari 70 hari atau setara lebih dari dua bulan tanpa hujan sama sekali. Angka ini masuk kategori kekeringan meteorologis ekstrem panjang, menempatkan keempat wilayah tersebut pada status rawan hingga sangat rawan kekeringan. Sementara itu, Boalemo dan Pohuwato tercatat melewati lebih dari 50 hari tanpa hujan.
Masa menuju musim hujan pun tidak serentak. Sesuai pembagian zona wilayah, awal musim hujan diprediksi beragam, sebagian wilayah masuk musim hujan pada dasarian II atau pertengahan November, sementara wilayah lainnya baru pada dasarian II Desember.
Menanggapi kondisi tersebut, BMKG mengeluarkan rekomendasi menyeluruh:
1. Pemerintah Daerah: perkuat kesiapsiagaan kebakaran hutan dan lahan serta krisis air bersih, siapkan mitigasi pancaroba termasuk normalisasi drainase.
2. Sektor Pertanian: sesuaikan jadwal tanam dan gunakan varietas unggul tahan kekeringan.
3. Pengelola Sumber Daya Air: jaga ketersediaan melalui revitalisasi waduk dan embung, serta tingkatkan efisiensi distribusi.
4. Masyarakat: hemat air, hindari pembakaran lahan, waspadai cuaca ekstrem mendadak saat transisi musim, dan pantau terus informasi resmi dari BMKG.
BMKG mengingatkan bahwa meski masa kering mulai menuju akhir, dampak kekeringan tetap terasa. Kesiapan bersama menjadi kunci melewati sisa kemarau sekaligus menyambut peralihan musim yang berlangsung tidak serentak.











