Scroll Untuk Lanjut Membaca
LINGKUNGANPEMPROV GORONTALO

DLHK Gorontalo Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla lewat Training Participatory Fire Management

×

DLHK Gorontalo Perkuat Kesiapsiagaan Karhutla lewat Training Participatory Fire Management

Sebarkan artikel ini
Participatory Fire Management
Foto bersama dalam kegiatan pembukaan Training Participatory Fire Management yang digelar DInas LHK provinsi Gorontalo. Foto/Dulohupa

Dulohupa.id – Kelompok Kerja (Pokja) program Results-Based Payment (RBP) Redd+ Green Climate Fund Output 2 Di Provinsi Gorontalo melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Gorontalo bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) serta Wahana Mitra Mandiri menggelar kegiatan Training Participatory Fire Management. Kegiatan ini dilaksanakan di Yulia Hotel, Sabtu (22/11/2025).

Sekretaris DLHK Provinsi Gorontalo, Syahbuddin Buata menjelaskan, pelatihan ini diikuti 30 orang dari unsur Polisi Kehutanan di Lingkup KPH, Kepala seksi perlindungan hutan dan pemberdayaan masyarakat, Analis hasil hutan, Analis adaptasi perubahan iklim, serta unsur DLHK.

Kegiatan ini kata Syahbuddin, untuk menyediakan wadah penguatan kapasitas para pemangku kepentingan dalam memahami, menerapkan, dan mengembangkan pendekatan Participatory Fire Management (Manajemen Kebakaran Partisipatif).

“Management sebagai strategi terpadu dalam upaya pencegahan, kesiapsiagaan serta pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Gorontalo,” ujarnya.

Ia meminta para peserta mampu memperkuat pencegahan, mitigasi, serta respons penanggulangan Karhutla secara terpadu di wilayah Provinsi Gorontalo.

Sementara Kepala Dinas LHK Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka saat membuka kegiatan menyampaikan, program RBP REDD+ merupakan komitmen besar pemerintah Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global melalui penurunan emisi gas rumah kaca, khususnya dari sektor kehutanan. Provinsi Gorontalo menjadi salah satu daerah yang mendapat mandat untuk memastikan keberhasilan program ini melalui berbagai kegiatan strategis, salah satunya kegiatan peningkatan kapasitas Participatory Fire Management untuk KPHP dan KPHL dalam rangka mengendalikan kebakaran hutan dan lahan secara cepat dan tepat melalui sinergitas aksi yang telah terbentuk.

Fayzal memaparkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan DLHK, sepanjang tahun 2024 tercatat lebih dari 612 hektare area terdampak kebakaran.

“Dari jumlah tersebut, sekitar 608 hektare merupakan kejadian di luar kawasan hutan, sementara kurang lebih 5 hektare terjadi di dalam kawasan hutan,” ungkap Fayzal.

Kepala Dinas LHK Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka saat memberikan arahan kepada peserta pelatihan. Foto/Dulohupa

Memasuki tahun 2025, potensi kejadian Karhutla masih cukup tinggi, terutama pada periode musim kemarau di wilayah yang tergolong rawan, seperti Kabupaten Pohuwato, Boalemo, Bone Bolango, Dan Gorontalo.

Kadis Fayzal menegaskan, dampak dari kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem dan berkurangnya tutupan vegetasi, tetapi juga berimplikasi pada terganggunya fungsi daerah resapan air, terancamnya habitat satwa, penurunan kualitas udara, serta potensi meningkatnya emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan.

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap kawasan hutan, tantangan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan sinergitas lintas sektoral karena telah menjadi isu lintas sektor yang membutuhkan pendekatan komprehensif, sistematis, dan berbasis kolaborasi.

“Oleh sebab itu, pendekatan participatory fire management menjadi sangat relevan dan strategis. Ini meningkatkan kapasitas kita dalam mendeteksi dini,” tutur Fayzal.

Dirinya mengajak para peserta untuk mengikuti pelatihan ini secara komitmen untuk memperkuat kesiapsiagaan wilayah, serta memastikan pengendalian Karhutla dilaksanakan secara terencana, terukur, cepat dan tepat. Melalui pelatihan ini tidak hanya belajar memahami konsep kebijakan, namun juga memperkuat manajemen komando lapangan, mempraktikkan penggunaan peralatan pencegahan dan pengendalian karhutla, serta menyusun rencana aksi participatory fire management yang dapat diimplementasikan langsung di lapangan.

“Saya ingin menegaskan bahwa keberhasilan mitigasi dan pencegahan kebakaran hutan tidak hanya bergantung pada dokumen kebijakan, tetapi pada kemampuan kita untuk bergerak cepat, responsif, terkoordinasi, dan berbasis data,” pinta Kadis Fayzal.

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak BPDLH dan lembaga perantara Wahana Mitra Mandiri yang telah memfasilitasi terlaksananya kegiatan ini, serta kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan acara ini dengan baik. Semoga pelatihan ini membawa manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas kinerja kita semua,” pungkasnya.

Kegiatan pelatihan ini menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya, antara lain dari:

  1. Bapppeda Provinsi Gorontalo dengan materi kebijakan provinsi, peran pemerintah daerah, dan integrasi fire management dalam program Rbp Redd+ Gcf Output 2 Gorontalo
  2. BPBD Provinsi Gorontalo Dengan materi manajemen komando lapangan dan kesiapsiagaan daerah terhadap kebakaran hutan dan lahan.
  3. Akademisi bidang kehutanan universitas nu fakultas maritim, perikanan dan kehutanan dengan materi praktek penyusunan rencana aksi participatory fire management di tingkat tapak.
  4. Satpol pp dan pemadam kebakaran Provinsi Gorontalo dengan materi konsep dan teknik Participatory Fire Management (pfm) untuk KPH
  5. Balai pengendalian karhutla wilayah sulawesi dengan materi teknik Pencegahan dan pengendalian Karhutla: praktik penggunaan peralatan pencegahan dan pengendalian karhutla serta simulasi pemadaman di tingkat tapak.