Dulohupa.id – Persoalan sampah merupakan problem hampir di semua negara seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, serta perkembangan industri. Namun demikian, tidak sedikit pemerintah suatu negara melakukan tindakan serius untuk mengatasi sampah, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang berkepanjangan.
Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Kesadaran masyarakat dalam memilah dan mendaur ulang sampah dinilai masih rendah, berbeda jauh dengan kebiasaan masyarakat Jepang yang sangat disiplin. Indonesia perlu belajar lebih dalam mengenai tata kelola sampah, khususnya sampah rumah tangga yang masih belum terpilah dengan baik hingga saat ini.
Keberhasilan pengelolaan sampah di Jepang membuat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Gorontalo mulai belajar dan akan menirunya. Hal ini terlihat saat kepala dinas LHK, Fayzal Lamakaraka, S.STP, Sekertaris Dinas LHK Syahbuddin Buata SE, MSi, serta jajaran pejabat Administrator dan fungsional menerima pemaparan secara langsung dari warga Jepang, Nagomi Mizoka di ruang rapat kantor dinas LHK Provinsi Gorontalo, Selasa (20/5/2025).

Nagomi Mizoka diketahui merupakan Junior Expert di bidang lingkungan, perwakilan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). JCA sendiri adalah lembaga kerjasama internasional yang didirikan oleh pemerintah Jepang untuk membantu pembangunan negara-negara berkembang.
Dalam pemaparan Nagomi, ada beberapa faktor yang menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah di Jepang. Salah satunya kesadaran individu mengenai sampah dan dampaknya pada lingkungan. Kesadaran ini muncul dari hal sederhana, yakni tidak membuang sampah sembarangan, serta mengurangi konsumsi kantong plastik.
Menurut pandangan masyarakat Jepang, membuang sampah sembarangan merupakan hal yang memalukan. Jepang dikenal memiliki sistem pengelolaan sampah yang efektif dan efisien, dengan pemilahan sampah yang ketat dan budaya kebersihan yang kuat.
Mendaur ulang sampah sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jepang dalam mengolahnya kembali agar lebih bermanfaat. Jepang memberlakukan aturan ketika membuang sampah, yakni plastik sampah harus digunakan sesuai dengan jenisnya dan disusun agar tidak merusak pemandangan.
Berbeda dengan Indonesia, Nagomi menjelaskan, Jepang memiliki jadwal yang ketat dalam pembuangan sampah. Semua jenis sampah memiliki jadwalnya tersendiri. Misalnya, hari Senin adalah jadwal buang sampah plastik dan botol plastik. Selasa, jadwal buang sampah yang mudah terbakar. Rabu, jadwal buang sampah Unorganik, kaleng atau botol. Kamis, jadwal buang sampah kertas. Sedangkan Jumat, jadwal buang sampah yang mudah terbakar.
Sementara warga Jepang juga ditopang dengan budaya dan Karateristik yang diajarkan sejak kecil agar mereka menjaga kedisiplinan. Seperti mengajarkan untuk tidak merepotkan orang lain dan menghargai barang. Kemudian ciri khas Jepang, tekanan sosial dan kekhawatiran terhadap pandangan orang lain.
Warga Jepang yang kedapatan tidak menaati aturan atau membuang sampah sembarangan, menurut Nagomi akan menerima tekanan sosial dari orang lain. Sehingga pembuang sampah sembarangan akan malu sendirinya.
Di tempat yang sama, Kepala dinas LHK Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka mengaku merasa terpanggil dengan apa yang dipaparkan Nagomi. Kedisiplinan serta sistem orang Jepang dalam mengelola sampah, menurut Fayzal, merupakan ilmu baru bagi dinas Lingkungan agar kedepan bisa menerapkan hal itu.
“Terima kasih Nagomi yang sudah memberikan ilmu kepada saya. Jujur saja, apa yang disampaikan Nagomi, saya baru sadar, karena cara ini hanya sederhana tapi sangat bermanfaat sekali untuk masyarakat agar bisa mengelola sampah dengan baik,” ujar Fayzal.
“Saya mohon tolong dikaji, tolong dikembangkan Pak Irwan, Pak Nasruddin dan pak Yusrin. Saya harap ini bisa ditindaklanjuti ke Kabupaten/Kota karena ini sangat luar biasa. Nantinya, bahan ini saya akan sampaikan kepada pimpinan, seperti ini yang kita hadapi terkait masalah sampah,” perintah Kadis Fayzal.
Fayzal menilai, masyarakat perlu dibelajarkan sejak usia dini, sehingga akan berpengaruhi psikologis dengan kebiasaan masyarakat itu sendiri. Menurutnya, kunci keberhasilan adalah kesadaran dan kedisiplinan. Sementara salah satu persoalan di Gorontalo dalam hal pengelolaan sampah, yakni Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Gorontalo cepat penuh karena sampah yang masuk tidak terpilah.
“Akhirnya sampah yang tidak terbakar, tidak terurai, sehingga sampah tetap terlihat menumpuk,” ucap Fayzal.
Disamping itu, Sekretaris dinas LHK Syahbuddin Buata menambahkan, pengolahan akhir di Jepang tidak sama dengan yang ada di Gorontalo. Sebab, Jepang tidak memiliki TPA, tapi sampahnya langsung masuk ke Incinerator yang berada di pusat Kota.
“Kalau di Jepang, pemerintahnya sangat mendukung untuk menyediakan Incinerator, meskipun alatnya terbilang mahal. Mereka juga konsen dalam penurunan emisi rumah kaca,” lanjut Syahbuddin.
“Meskipun demikian, kami berharap kedepan, pengelolaan sampah di Gorontalo bisa berjalan dengan baik. Selain kesadaran masyarakat, investor yang datang bekerjasama dengan pemerintah untuk mengelola sampah, perlu juga dilakukan. Karena, untuk mengelola sampah yang banyak, harus punya anggaran untuk mengoptimalkan hal itu. Sehingga perlunya investasi ke daerah itu penting,” pungkas Sekretaris LHK, Syahbuddin Buata.
Reporter: Enda











