Dulohupa.id — Nama mantan Presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo (UNG) periode tahun 2020 sekaligus mantan Koordinator Pusat BEM Nusantara se-Sulawesi, Aldi Ibura, ikut mencuat di tengah sorotan terhadap aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan DAM, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo.
Sorotan tersebut mengemuka setelah tragedi longsor di kawasan pertambangan pada Rabu malam, 12 Agustus 2026, yang mengakibatkan lima orang meninggal dunia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, lokasi yang mengalami longsor disebut bukan merupakan lokasi yang dikelola Aldi Ibura. Namun, Aldi disebut memiliki atau menjalankan aktivitas pertambangan di kawasan PETI DAM Hulawa.
Pada Kamis (13/8/2026), Wartawan Dulohupa.id mengunjungi rumah duka korban dan berupaya menggali informasi terkait siapa saja pemilik lokasi tambang ilegal yang berada di kawasan PETI DAM Hulawa. Alhasil, salah satu hal yang didapatkan dan menjadi perhatian adalah hubungan keluarga antara Aldi Ibura dengan salah satu korban meninggal dunia, yakni Miman Ibura (23), warga Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo.
Selain itu, informasi di lapangan menyebut proses pencarian dan evakuasi korban turut menggunakan alat berat berupa excavator yang disebut berkaitan dengan Aldi. Penggunaan alat berat tersebut disebut berkaitan dengan kondisi lokasi PETI yang memang menggunakan excavator dalam aktivitas penambangan.
Aldi juga disebut akan memberikan santunan sebesar Rp10 juta kepada masing-masing keluarga korban. Informasi mengenai santunan tersebut menjadi bagian lain yang memunculkan pertanyaan publik mengenai hubungan Aldi dengan aktivitas pertambangan di kawasan DAM.
Dulu Aktivits Menolak Ketidakadilan, Kini Aldi Diduga terlibat PETI
Nama Aldi Ibura sebelumnya dikenal dalam aktivitas gerakan mahasiswa. Pada 2022, Dewan Pertimbangan Presiden mencatat Aldi sebagai Koordinator Pusat BEM se-Sulawesi dan pengurus pusat BEM Nusantara dalam sebuah pertemuan dengan BEM Nusantara.
Ia juga dikenal pernah menyuarakan sejumlah persoalan sosial dan kebijakan publik melalui gerakan mahasiswa. Kini, namanya justru muncul dalam pemberitaan mengenai aktivitas PETI di Pohuwato. Kontras tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai konsistensi sikap Aldi terhadap persoalan sosial dan lingkungan apabila benar terdapat aktivitas pertambangan yang berkaitan dengannya.
Namun, pertanyaan tersebut tetap harus ditempatkan sebagai ruang klarifikasi, bukan tuduhan. Aldi perlu diberikan kesempatan untuk menjelaskan secara terbuka mengenai aktivitas, kepemilikan alat berat, maupun hubungan bisnisnya di kawasan PETI DAM.
Sebelumnya, pemberitaan mengenai dugaan keterkaitan Aldi dengan aktivitas PETI di kawasan DAM juga telah muncul pada April 2026. Salah satu laporan media lokal menyebut Aldi diduga berkaitan dengan aktivitas tambang ilegal di kawasan tersebut. Informasi itu juga masih berupa dugaan dan bukan putusan hukum.
Nama Anggota DPRD Pohuwato Juga Disebut
Persoalan PETI DAM tidak hanya memunculkan nama Aldi Ibura. Nama anggota DPRD Kabupaten Pohuwato dari Fraksi NasDem, Yusuf Lawani, juga sebelumnya disebut berkaitan dengan kawasan pertambangan tersebut.
Yusuf membantah bahwa titik lokasi yang mengalami longsor merupakan lokasi yang dikelolanya.
“Peristiwa itu bukan di lokasi saya. Itu di lokasi Firman. Dari lokasi saya masih ada lokasi Kusno, baru itu saya punya,” ujar Yusuf.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan nama Firman Pakaya dan Kusno dalam rangkaian informasi mengenai lokasi-lokasi pertambangan di kawasan DAM.
Namun demikian, penyebutan nama-nama tersebut tidak serta-merta menunjukkan keterlibatan mereka dalam peristiwa longsor ataupun aktivitas PETI tanpa izin. Kepastian mengenai siapa pemilik, pengelola, penyandang dana, maupun pihak yang mengoperasikan masing-masing lokasi membutuhkan pembuktian lebih lanjut.
Lima Orang Meninggal Dunia
Tragedi longsor terjadi pada Rabu malam, 12 Agustus 2026, sekitar pukul 19.00 WITA di kawasan PETI DAM, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia. Lima orang dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun material longsor. Kelima korban tersebut yakni:
- Pandra Djalilu (27) — Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu.
- Miman Ibura (23) — Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu.
- Sandi Bilondatu (23) — Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu.
- Piki Larama (26) — Dusun Beringin, Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu.
- Andi Otoluwa — Desa Bongonol, Kecamatan Paguyaman.
Empat korban diketahui berasal dari Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, sedangkan satu korban lainnya berasal dari Desa Bongonol, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo.
Diduga Ada Puluhan Penambang di Lokasi
Jumlah orang yang berada di lokasi ketika longsor terjadi juga menjadi perhatian. Seorang kerabat korban yang ditemui di rumah duka di Desa Bendungan menyebut terdapat sekitar 30 penambang yang beraktivitas di lokasi sebelum longsor. Warga tersebut mengaku melihat banyak lampu senter kepala penambang sebelum material tanah longsor.
“Ada sekitar 30 senter kepala yang menyala di lokasi itu. Tiba-tiba longsor, puluhan senter tersebut sudah tidak terlihat lagi,” ujarnya.
Sementara Kepala Desa Bendungan, Mus Yasin, juga membenarkan terdapat sejumlah warganya yang berada di lokasi pertambangan ketika kejadian. Menurut Mus Yasin, empat warga Desa Bendungan yang menjadi korban berhasil dikenali oleh warga yang selamat dari kejadian tersebut dan kemudian dievakuasi.
Ia juga menyebut peristiwa pada malam hari itu merupakan longsor susulan. Sebelumnya, longsor telah terjadi pada sore hari. Setelah kondisi dianggap lebih aman, aktivitas penambangan kembali dilakukan. Namun pada malam hari, longsor kembali terjadi dan menimbun para penambang.
Reporter: Onal











