Scroll Untuk Lanjut Membaca
PEMPROV GORONTALO

Cuaca Ekstream Melanda, Tutupan Pohon di Gorontalo Makin Berkurang

×

Cuaca Ekstream Melanda, Tutupan Pohon di Gorontalo Makin Berkurang

Sebarkan artikel ini

Dulohupa.id – Cuaca dan Perubahan iklim ekstream kini mulai dirasakan penduduk Provinsi Gorontalo, hal tersebut selaras dengan mulai berkurangnya tutupan pohon yang ada di kawasan hutan maupun perkotaan akibat eksploitasi berlebihan.

Akhir-akhir ini hampir seluruh belahan Dunia dilanda fenomena cuaca ekstream, dimana sejumlah wilayah di penjuru dunia mengalami cuaca panas hingga mencapai pada suhu 45 derajat Celcius. Hal tersebut diketahui dipengaruhi oleh adanya gelombang panas atau Heatwave.

Fenomena ini pun turut dirasakan hingga ke wilayah Indonesia, dilansir dari BMKG RI, suhu di wilayah Indonesia menyentuh suhu panas hingga pada angka 37,2 derajat Celcius. Namun, cuaca panas ekstrem yang terjadi di Indonesia merupakan akibat dari adanya gerak semu matahari yang merupakan siklus tahunan.

Meskipun demikian, hal itu pun dirasakan oleh penduduk Provinsi Gorontalo, yang hampir sepekan ini mengeluhkan suhu panas yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Jika di perhatikan, suhu di wilayah Gorontalo menyentuh pada angka 32-44 derajat Celcius.

Fenomena cuaca panas ekstrem yang melanda, merupakan sebuah akibat terjadinya perubahan iklim. Selain itu, hal ini merupakan sebagai akibat meningkatnya aktivitas pemanasan Global yang membuat semakin menipisnya lapisan ozon Bumi.

Secara kasat mata, terlihat tutupan awan saat ini mulai berkurang dan membuat pancaran cahaya matahari dirasakan langsung oleh manusia dan seluruh mahluk hidup. Terlepas dari itu, aktivitas eksploitasi lingkungan yang berlebihan mengakibatkan terjadinya deforestasi. Sehingga hal ini berdampak pada berkurangnya tutupan pohon yang seharusnya mampu menekan atau mengurangi suhu panas yang dipancarkan matahari.

Secara sadar kita mampu membedakan suhu ketika dilokasi dengan tutupan pohon yang rapat dan lokasi yang tidak memiliki tutupan pohon, khsusunya diwilayah perkotaan. Kita sadari akan terjadi perbedaan yang begitu signifikan, sehingga tutupan pohon sejatinya mampu menjadi pelindung dan mengatasi persoalan cuaca panas ekstrem.

Sayangnya, dewasa ini justru terjadi peningkatam deforestasi lahan atau hutan akibat aktivitas manusia yang kian mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

Disisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka menyadari bahwa saat ini banyak aktivitas yang mengakibatkan terjadinya penurunan tutupan pohon baik di kawasan hutan maupun di wilayah perkotaan.

“Memang cuaca sekarang tidak menentu, kadang panas dan tiba-tiba hujan. Memang ini fenomena karena adanya perubahan iklim ekstream yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Sehingga ini juga menjadi tugas kami untuk bagaimana kedepan bisa mengkampanyekan dan mengupayakan lingkungan yang asri. Kita juga saat ini tengah merancang program nasional yaitu FOLU Net Sink untuk menekan perubahan iklim ekstream dan pemanasan global,” ungkap Kadis LHK, Fayzal Lamakaraka.

Fayzal juga berharap agar masyarakat dan seluruh stakeholder dapat bersama-sama dalam mendukung terciptanya lingkungan yang lestari untuk tetap mencegah semakin parahnya pemanasan global. Dirinya menghimbau masyarakat dan pihak-pihak koorporasi agar tidak melakukan kegiatan eksploitasi berlebihan terhadap lingkungan.

“Sekarang kita bisa lihat dan bisa kita rasakan bagaimana dampaknya, panas matahari yang sudah tidak seperti biasanya, cuaca kadang tidak menentu dan banyak bencana alam yang terjadi. Itu semua sejatinya dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang kurang bijak dalam melakukan pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan,” Tegasnya.

Sebagai bentuk komitmen dan tanggungjawab dalam menghadapi perubahan iklim dan cuaca ekstream, Dinas LHK telah menyiapkan langkah-langkah konkrit guna mencegah semakin buruknya kelestarian lingkungan dan iklim.

Fayzal Lamakaraka mengungkapkan pihaknya kedepan akan melaksanakan peningkatan indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH), meningkatkan pengelolaan limbah B3 dari Fasyankes, menekan emisi gas rumah kaca, membudidayakan jamur untuk ketahanan pangan, melaksanakan program kampung iklim, Program FOLU Net Sink, serta akan melaksanakan pendampingan Perhutanan Sosial.

Reporter : Kris