Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

- Advertisement -

Beternak Ayam Warna-Warni, Peluang Bisnis di Tengah Pandemi

Dulohupa.id- Kondisi serba sulit di tengah pendemi, membikin orang-orang dipaksa kreatif membaca potensi bisnis yang menjanjikan. Sebut saja bisnis bunga yang akhir-akhir ini meraup cuan dengan menargetkan ibu-ibu pencinta bunga.

Melihat adanya potensi itu, seorang pemuda asal Desa Pohuwato Timur, Kabupaten Pohuwato, lantas mencoba untuk beternak ayam warna-warni. Dan benar saja, bisnisnya tersebut rupanya tidak kalah menguntungkan dengan bisnis bunga.

Pemuda itu bernama Rahmat Sakue (27). Kepada Dulohupa.id ia mengaku telah menggeluti bisnisnya tersebut kurang lebih dua minggu terakhir. Rahmat yang biasa disapa Andika itu, mengaku mencoba bisnis tersebut karena melihat warga lainnya yang juga menangkap peluang bisnis tersebut.

“Saya awalnya memang hobi beternak ayam, tapi kalau untuk yang ayam warna, ini yang pertama kali,” kata Andika kepada Dulohupa, Kamis (5/11/).

Sebetulnya kata Andika, target konsumen untuk bisnis ini adalah anak-anak. Sebab, mereka memang suka dengan ayam yang berwarna tidak beda dengan ayam lainnya. Apalagi momentum sekolah tutup, yang mengharuskan mereka anak-anak hanya menghabiskan waktunya di rumah.

“(Karena) Orang tua khawatir anak-anaknya bosan di rumah saja, pembelajaran daring begitu membosankan, dan untuk melepas kebosanan pada anak-anaknya, mereka kemudian membelikan mereka sepasang ayam warna-warni sebagai teman bermain mereka selama di rumah,” bebernya.

Positifnya kata Andika, menjual ayam warna-warni kepada anak-anak secara langsung mengajarkan mereka untuk beternak ayam sedari dini.

“Meskipun baru satu dua ekor yang mereka rawat dan jaga, tapi saya berpikir itu merupakan langkah awal untuk mengenalkan mereka tentang beternak,” tambahnya.

Jadi Bisnis Menguntungkan

Menyadari tingginya minat beli masyarakat terhadap ayam warna-warni ini, Andika pun menambah kapasitas kandangnya. Katanya, ia bahkan menambah satu kandang baru khusus untuk ayam warna-warni tersebut.

“Di rumah saya punya banyak ayam, dari ayam kampung yang saya ternakan sampai dengan ayam bangkok, tapi karena tren ayam warna mulai tinggi, saya kemudian menambah kandang baru untuk dihuni ayam warna-warni.” kata Andika.

Kini, yang awalnya hanya memelihara empat ekor ayam saja, kini Andika sudah memiliki 35 ekor ayam yang siap dijual.

“Peluang bisnis memang terbuka, dari bisnis menjual ayam DOC yang sudah diwarnai, juga bisa menjual ayam tersebut ketika dewasa, harga jualnya pada umur DOC tergolong murah, per ekornya dijual dengan harga Rp 5 ribu saja, dan ketika besar nanti, kita bisa menjualnya dengan harga ayam pada umumnya,” imbuhnya.

Sementara itu, Azan (31) yang ditemui Dulohupa.id secara terpisah, juga mengaku mulai suka beternak ayam warna-warni.

“Pada awalnya saya hanya membeli beberapa ekor untuk mainan anak-anak di rumah agar tidak bosan, namun semakin ke sini saya mulai suka dan memutuskan untuk membeli dengan jumlah yang banyak dan mulai menernakan ayam warna-warni ini,” jelas Azan.

Azan yang sehari-hari bekerja sebagai kuli itu mengatakan, beternak ayam warna ini sebenar memiliki peluang bisnis yang bagus. Karena menurutnya, para penjual ayam warna itu hampir setiap minggu (waktu pasar Marisa) selalu menjual ayam warna-warni yang dijual masih seumuran DOC.

“hanya saja tren ayam warna ini mulai diminati saat pandemi, jika ibu-ibu suka bunga mungkin saya dan anak saya suka beternak ayam warna,” jelasnya.

Kata Azan juga, selain memiliki warna yang bervariasi, ia mengakui bentuk dari ayam warni sangat lucu dan sangat disukai oleh anak-anak juga dirinya.

“Saya kalau lelah dari pulang kerja, saya belum mandi atau bersih-bersih dulu, saya langsung ke kandang ayam warna itu, ketika melihat mereka, lelah saya terbayarkan,” tutupnya.

Penyebutan terhadap ayam warna warni sendiri sebetulnya tidak merujuk pada jenis ayam, sebab sebetulnya ini adalah jenis ayam DOC atau boiler yang masih kecil, tetapi diwarnai dengan bahan pewarna tekstil.

Reporter: Zulkifli Mangkau