Dulohupa
Portal Berita Online Gorontalo

Belasan Tahun Mengajar Dengan Upah Kecil, 5 Guru Honorer Ini Diganjari Penghargaan SUMO Award 2020

Dulohupa.id – Kesejahteraan guru di Indonesia, terutama di pelosok desa memang memprihatinkan. Kendati mereka mengemban tugas berat mencerdaskan bangsa. Seperti yang dialami oleh lima guru honorer di tiga kabupaten di Gorontalo ini. Belasan tahun mereka mengajar anak-anak sekolah dengan upah yang sangat minim. Beberapa bahkan harus menempuh waktu berjam-jam menuju sekolah tempat mereka mengajar.

Dengan peluh dan pengabdian sebesar itu, tidak berlebihan jika mereka lantas diganjari penghargaan Suharso Monoarfa (SUMO) Foundation Award 2020, yang bertajuk “Penghargaan Yayasan Suharso Monoarfa kepada Guru Pejuang dan Tokoh Desa” pada Sabtu kemarin, (15/8) di Hotel Damhil, Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

“Penghargaan ini diberikan kepada para guru pejuang dan tokoh desa di Provinsi Gorontalo karena kesadaran kita pula betapa kualitas keterdidikan dan skill SDM di daerah ini masih minim dan membutuhkan peran lebih dari guru dan tokoh desa di daerah ini.” ungkap Suharso Monoarfa yang juga menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI.

Siapa saja mereka, berikut segala hal ihwal tentang lima guru honorer tersebut:

Jatia Lahani

Jatia Lahani akrab disapa Ibu Tia, merupakan guru hohorer di kelas jauh SDN 12 Tolangohula. Sebuah sekolah yang terletak di kawasan dusun Tumba di lereng Gunung Boliyohuto, Desa Tamaila Utara, Kabupaten Gorontalo. Menempuh sekolah tersebut, Jatia mesti berjalan kaki melewati jalan terjal dan perbukitan. Jalanan akan terasa semakin sulit saat musim penghujan tiba. Alasan yang sama yang lantas membikin guru-guru lainnya berhenti mengajar di sekolah ini.

Meski begitu, bagi Jatia, akses yang sulit itu seolah menjadi teman perjalanannya sejak tahun 2007, tahun pertama kalinya ia memutuskan untuk menjadi guru. Berbicara soal kesejahteraan, sejak 2007 hingga 2011, Jatia rupanya hanya dibayar dengan mengunakan dana BOS sebesar 200 ribu rupiah per bulan. Upah itu lantas naik menjadi 600 ribu rupiah setelah ia menerima SK Bupati Gorontalo pada tahun 2011.

Saat ini, Jatia menerima upah satu juta rupiah per bulan. Uang itu dia gunakan untuk membiayai kuliah anaknya hingga sarjana. Ia pun berkebun di sekitar sekolah agar memiliki penghasilan tambahan. Pernah suatu kali, Jatia diminta oleh suaminya untuk berhenti mengajar karena tahu, bahwa dirinya sudah setahun tidak menerima upah. Sebuah permintaan yang berat untuk dipenuhi oleh Jatia tentunya.

Dalam benaknya “Siapa lagi yang akan mendidik para siswa di sekolah jika dia berhenti?“. Dengan tegas, permintaan itupun dia tolak. Sikap yang sama ketika dia menolak untuk menyerah dengan segala keadaan, minimnya fasilitas sekolah, akses jalan yang sulit, dan kesejahteraan seorang guru honorer selama bertahun-tahun di tengah desakan kebutuhan hidup.

Diusianya yang semakin menua, Jatia tidak mempedulikan lagi status guru honorer yang ia emban selama 17 tahun. Dalam kesendirian mengajar sebagai seorang guru, Ibu Tia hanya ingin memastikan bahwa seluruh anak-anak yang berada di Dusun Tumba terpenuhi hak pendidikannya.

Saat ini, Jatia menjadi satu-satunya guru yang mengajar di sekolah tersebut. Sebab, tak ada guru lainnya yang sanggung menempuh medan sesulit itu. Kebanyakan dari mereka mundur atau hanya bertahan beberapa minggu saja.

Herlina Laiya

Siapa yang mau mengabdi sebagai guru honorer dengan upah yang kecil ? Jawabannya adalah Herlina Laiya. Wanita berusia 40 tahun ini telah mengabdikan dirinya di dunia pendidikan sejak 2008 silam.

Saban hari, Herlina yang mengajar mata pelajaran agama di kelas satu hingga kelas enam itu, harus menempuh jarak satu kilometer untuk mencapai SDN 17 Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo.

Herlina mengabdi sebagai guru honorer dengan upah sebesar 100 ribu rupiah setiap bulannya. Meski begitu, upah yang terbilang kecil itu tidak menyurutkan niatnya untuk mencerdaskan anak bangsa.

Herlina, bersama suami dan seorang anak balitanya, tinggal di rumah seluas 15 meter persegi di Dusun 4 Yihedu, Desa Daena’a, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Meski berdinding anyaman bambu bekas tetangga, namun Herlina sudah merasa cukup sebagai tempat berteduh dan tanpa mengeluh, alih-alih bersukur.

Di mata rekan-rekan guru lainnya, Herlina adalah sosok guru yang sangat disiplin, rajin, dan suka membantu guru lainnya. Mereka bahkan tidak menyangka, dengan gaji kecil dan beban ekonomi yang harus ditanggung, Herlina masih tetap setia untuk menjalani profesinya sebagai guru. Kini, meski dengan upah sebesar 400 ribu rupiah, dirinya bersyukur karena bisa membantu suaminnya yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Sebab, bagi Herlina, masih ada orang lain yang lebih susah dari dirinya. Niat Herlina untuk menjadi guru berstatus ASN sebenarnya ada. Namun dua kali sudah ia mendaftar, dua kali itu pula ia tak lolos. Dengan gaji yang sekecil itu, Herlina tak pernah mengalihkan pikiran untuk mencari pekerjaan yang lain. Bagi Herlina, dunia pendidikan sudah menjadi separuh hidupnya. Ia tetap ingin mendedikasikan hidupnya untuk terus membantu dunia pendidikan. Meski disaat bersamaan ia harus hidup dengan segala keterbatasan.

Saharia Mardia alias Ibu Seto

Sudah 13 tahun lamanya, Saharia Mardia mengabdikan diri sebagai guru honorer di SDN 16 Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Lokasi sekolah itu berjarak empat kilometer dari rumahnya yang berada di Desa Daena’a kabupaten setempat. Meski jauh, namun jarak itu ia tempuh dengan hanya berjalan kaki.

Perjalanan Saharia sebagai guru berawal pada tahun 2007. Saat itu ia baru saja lulus dari jurusan D-2 Perpustakaan, Universitas Terbuka. Diterima sebagai guru honorer, wanita yang akrab disapa Ibu Seto ini diberikan upah 50 ribu rupiah perbulannya.

Angka yang tentu sangat kecil itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap mengajar sebagai guru Mata Pelajaran Agama. Meski begitu, sadar dengan gajinya yang kecil, Saharia memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan menjual kue di sekolah dan sempat kerja sampingan menjadi petugas layanan kebersihan (Cleaning Service). Pada tahun 2019, upah Saharia menjadi 600 ribu rupiah per bulan.

Saharia sendiri memiliki tiga anak. Namun saat ini, ia hanya tinggal bersama suami dan satu orang anaknya yang duduk bangku SMA, sementara anak lainnya ada yang sudah menikah dan tinggal di tempat lain bersama istrinya, dan satunya lagi diasuh oleh saudara Ibu Seto. Rumah yang ia tempati saat inipun memprihatinkan. Ia tinggal di gubuk bambu berukuran 24 meter persegi dan hanya memiliki satu kamar.

Saharia sempat meniatkan diri untuk memperbaiki rumah mereka yang sudah mulai di makan rayap. Namun pendapatan suami yang berprofesi sebagai buruh pabrik tepung hanya mampu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Sementara iapun juga sempat memiliki asa untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS/ASN) karena telah mengabdi sebagai guru honorer lebih dari sepuluh tahun. Namun, asa itu harus ia lupakan karena sadar usianya tidak mungkin lagi bisa menjadikannya seorang ASN.

Tak ada penyesalan atas pilihan yang diambilnya menjadi guru. Baginya, menjadi guru adalah sebuah sumbangsih dalam mencerdaskan anak bangsa.

Aisah Raima Kasim

Memiliki tanggung jawab terhadap anak didiknya membuat Aisah telah terbiasa melewati sulitnya mengajar di sekolah jauh SDN 10 Kabila Bone. Aisah tak gentar meski harus melewati sembilan sungai dengan arus yang kuat menuju sekolah di pedalaman dusun Waolo, Desa Molotabu, Bone Bolango tersebut. Kendati ia telah berusia lanjut.

Cerita Aisa di dusun Waolo bermula saat dirinya bersama seorang rekannya, merintis kelas jauh di dusun tersebut pada tahun 2005. Dan pada 2008, status sekolah beralih menjadi sekolah negeri dengan bangunan permanen. Saat ini, proses belajar mengajar dilakukannya bersama dengan sembilan rekannya. Dua di antara mereka sudah berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), sedangkan tujuh lainnya masih berstatus honorer.

Perjalanan menuju dusun Waolo memakan waktu rata-rata hampir 2 jam. Selama perjalanan, guru laki-laki mempunyai tugas khusus untuk menjaga guru perempuan agar tidak jatuh saat melewati jalanan terjal, dan membantu untuk menyeberangi sungai agar tak terseret arus.

Sebagai seorang guru berstatus honorer, Aisah mendapat gaji sebesar 1,5 juta rupiah per bulan yang diterima setiap tiga bulan. Gaji itu digunakan untuk menghidupi empat orang anaknya dan orang tuanya. Berutang kepada tetangga menjadi solusi jika uang untuk membeli bahan makanan telah habis.

Aisah juga sering membawa salah seorang anaknya yang menyandang disabilitas ke sekolah tempat ia mengajar. Pilihan menyekolahkan anaknya ke SLB tidak diambil karena dirinya tak tega. Lagian, tak ada yang mengantar jemput serta menjaga anaknya itu bersekolah.

Hingga hari ini, Aisah dan para guru honorer di SDN 10 Kabila Bone masih tetap setia mengabdikan diri mereka untuk mengajar. Tak ada protes dari mereka, bahkan ketika tunjangan untuk guru-guru terpencil sudah dihapuskan sejak lima tahun silam hanya karena desa Molotabu sudah ditetapkan sebagai desa maju. Padahal, masih ada sekolah yang jauh dan medan yang sulit dilalui oleh para guru. Mereka adalah para guru pejuang yang membuktikan kecintaan yang luar biasa besar bagi masa depan pendidikan para siswanya.

Kasmad Daud

Tiga puluh tahun berstatus guru honorer bukan menjadi persoalan besar bagi seorang Sasmad Daud, guru di SDN 15 Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara. Bukan statusnya yang ia pikirkan, namun masa depan pendidikan anak-anak yang justru menyita perhatiannya.

Sebetulnya, sejak 1980, Kasmad Daud telah mengabdi di Madrasah Tsanawiyah Imana, di desa Imana, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara. Lalu pada 2002 ia turut membantu mengajar di sekolah lain, yaitu SDN 4 Imana yang saat itu baru saja dirintis. Namun pada 2010, Kasmad akhirnya memutuskan berhenti mengabdi di Madrasah Tsanawiyah Imana dan menetap mengajar di SDN 4 yang saat ini namanya telah berubah menjadi SDN 15 Atinggola

Ia memenuhi komitmennya untuk pindah ke sekolah tersebut, jika sekolah itu telah berubah menjadi sekolah negeri. Ia pun melanjutkan pengabdiannya sebagai guru di SDN 15 Atinggola dengan memegang mata pelajaran pendidikan jasmani (penjas) dan muatan lokal (mulok).

Pernah suatu ketika Kasmad berpeluang masuk sebagai CPNS dengan diminta terlebih dahulu mengurus kategori dua. Namun permintaan itu ditepis karena tidak ingin diangkat PNS hanya karena pengabdiannya bertahun-tahun. Ia pun hingga kini bertahan dengan gaji honor sebesar Rp. 700 ribu perbulan. Angka yang tidak menjadi persoalan baginya selama ia tetap bisa mengabdi sebagai guru. Untuk memenuhi kebutuhannya, Kasmad mengandalkan hasil pertaniannya.**