Dulohupa.id– Aksi pembacokan marak terjadi di Gorontalo. Di bulan desember 2020 saja, peristiwa pembacokan terjadi hampir setiap pekan. Ironisnya, pelaku pembacokan sebagian besar adalah para generasi muda yang umurnya berkisar 17 tahun. Hal ini menjadi keresahan tersendiri bagi warga Kota Gorontalo dan sekitarnya.
Senin (21/12) malam, dua kelompok pemuda di Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango terlibat aksi tawuran. Peristiwa yang terjadi di depan Alfamart Tapa, tepatnya di kompleks Bundaran Tapa, Kabupaten Bone Bolango itu, bahkan menyebabkan Yayan Kristian Arsad alias Yayan, harus di larikan ke rumah sakit, usai mengalami luka yang cukup parah di bagian kepala, akibat sabetan benda tajam.
Menurut Informasi, peristiwa berdarah ini di picu akibat perselisihan antara Yayan (Korban) dan AZ (Pelaku) sehari sebelumnya, Minggu (20/12). AZ yang menaruh dendam terhadap Yayan kemudian melakukan aksi balas dendam, dengan menyerang Yayan menggunakan senjata tajam. Kasus ini tengah dalam penanganan Polsek Tapa, Kabupaten Bone Bolango. AZ sendiri berhasil tertangkap anggota kepolisian, setelah berusaha melarikan diri menuju Provinsi Sulawesi Utara.
Kasus pembacokan ini sendiri adalah salah satu rangkaian persitiwa berdarah yang terjadi di wilayah Gorontalo. Belum lama ini, kasus pembacokan juga terjadi di Kelurahan Biawu, Kota Gorontalo. Pelakunya juga masih berusia cukup muda, yakni 18 tahun.
Di Awal desember tahun 2020, tepatnya Sabtu (5/12) dini hari. Salah seorang pengemudi bentor yang tengah nongkrong di Bundaran Perlimaan, Kota Gorontalo, juga menjadi sasaran aksi pembacokan oleh sekelompok pemuda. Bambang (42) (Korban,red) bahkan mengalami sejumlah luka di bagian kepala dan tangannya, usai di serang oleh para pelaku yang di duga berjumlah 4 orang itu.
Warga: Tembak Saja Pelaku Pembacokan Itu
Deretan peristiwa berdarah ini seolah menjadi alarm bahaya bagi stabilitas keamanan di Gorontalo. Warga mengaku sangat resah dengan rangkaian aksi pembacokan itu.
“Ini sudah keterlaluan, Polisi harus ambil sikap tegas untuk menekan angka kekerasan menggunakan senjata tajam itu,” Ujar Renaldi salah seorang warga Bulotadaa, Kota Gorontalo.
Karena menurut Renaldi, Jika tidak ada efek jera yang keras, maka kasus pembacokan itu akan kembali berulang. Apalagi saat perayaan malam tahun baru 2021 nanti.
“Kalau perlu, ada intruksi tembak di tempat, seperti saat kasus panah wayar kemarin sering terjadi di Kota Gorontalo,” tegasnya.
Sementara itu, hingga saat ini pihak kepolisian mulai intensif melakukan patroli di sejujmlah titik rawan aksi kriminalitas. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya aksi perkelahian antara warga yang belakangan mulai marak terjadi.
Reporter: Yusuf Konoli











