Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALOHEADLINE

Tilamuta-Dulupi Diprediksi Kemarau Terpanjang, Capai Awal 2027

×

Tilamuta-Dulupi Diprediksi Kemarau Terpanjang, Capai Awal 2027

Sebarkan artikel ini
BMKG El Nino Gorontalo
BMKG Gorontalo. Dok: Dulohupa

GORONTALO, Dulohupa.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Provinsi Gorontalo akan mengalami musim kemarau panjang pada 2026. Wilayah Tilamuta dan Dulupi di Kabupaten Boalemo diprediksi menjadi yang paling terdampak.

Hal tersebut disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo, Merpati Teodoris Nalle kepada awak media beberapa waktu lalu.

Tilamuta-Dulupi 25 Dasarian atau 8 Bulan

Merpati mengatakan, panjang musim kemarau tahun ini bervariasi antara 11 sampai 25 dasarian di seluruh Gorontalo.

“Itu yang paling panjang musim kemaraunya, kami prediksi di sebagian kecil Boalemo dan bagian selatan yaitu Tilamuta dan Dulupi,” ucap Merpati.

Bahkan menurutnya, musim kemarau di dua wilayah tersebut bisa mencapai awal tahun mendatang.

“Dan yang paling panjang itu di daerah Tilamuta dan Dulupi itu sekitar 25 dasarian, sekitar 8 bulanan. Dan nanti prediksi kami bahwa daerah situ sampai awal tahun masih musim kemarau,” tutupnya.

Wilayah dengan Kemarau Paling Pendek

Sementara wilayah yang diprediksi paling pendek musim kemaraunya berada di sejumlah titik.

“Terus yang paling pendek yaitu di Suwawa bagian tengah, sebagian kecil Boalemo bagian barat laut, sebagian Bone Bolango bagian barat daya, sebagian kecil Boalemo, sebagian Gorontalo bagian selatan, seluruh Kota Gorontalo dan sebagian Pohuwato bagian selatan. Itu antara yang paling panjang dan paling pendek,” pungkasnya.

Awal Kemarau Maju karena El Niño

Merpati menjelaskan, awal musim kemarau ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan per dasarian atau periode 10 hari.

“Musim kemarau itu biasanya kita tentukan kalau misalnya dalam 10 hari curah hujannya tidak mencapai 50 mm,” ujar Merpati.

“Jadi kalau misalnya dalam 10 harian ada hujan tapi kurang dari 50 mm dan diikuti oleh 2 dasarian berikutnya berturut-turut, maka kami menetapkan bahwa itu masuk musim kemarau karena curah hujannya kurang dari 50 mm,” lanjutnya.

Ia juga menyebut musim kemarau tahun ini lebih awal dari biasanya karena pengaruh fenomena global.”Antara musim kemarau ditambah dengan fenomena El Niño, makanya awal musim kemarau itu maju di Gorontalo sekitar satu dasarian rata-ratanya,” ungkapnya.

Reporter : Ridhayansa

Editor   : Enda