Scroll Untuk Lanjut Membaca
GORONTALOHEADLINE

Hadapi Musim Kemarau, BMKG Prediksi El Nino di Gorontalo Capai Level Kuat

×

Hadapi Musim Kemarau, BMKG Prediksi El Nino di Gorontalo Capai Level Kuat

Sebarkan artikel ini
BMKG El Nino Gorontalo
BMKG Gorontalo. Dok: Dulohupa

Dulohupa.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino di Gorontalo mencapai tahap level kuat.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo, Merpati Teodoris Nalle menerangkan bahwa musim kemarau umumnya terjadi sekitar 62,5 persen.

“Untuk tahun 2026 di Provinsi Gorontalo prediksi musim kemaraunya pada umumnya yang kami keluarkan di Maret dan Juni adalah terjadi umumnya sekitar 62,5 persen terjadi di Juli 1, itu sekitar 5 zona musim di Provinsi Gorontalo. ,” ujar Merpati kepada awak media beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut jelas Merpati, dari pengamatan yang dilakukan terus menerus pada periode bulan April sampai Juni, indeksnya mencapai 1,03.

“Pada saat ini anomali suhu muka laut di Nino 34 yang kami amati terus menerus pada periode April sampai Juni ini adalah sekitar sebesar atau indeksnya sebesar 1,03 yang menunjukkan bahwa adanya El Nino,” jelasnya.

Dari hasil pengamatan ini, BMKG memprediksi El Nino di tahun 2026 ini mencapai level yang kuat.

“BMKG memprediksi El Nino tahun 2026 akan mencapai level kuat. Jadi level kuat itu mencapai indeksnya itu antara 1 sampai 2,” pungkasnya.

Sebelumnya BMKG memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli hingga September 2026, dengan sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami kondisi yang lebih kering dan lebih panjang dari biasanya akibat fenomena El Nino.

Sebagai tambahan, El Nino level kuat atau super El Nino adalah fenomena iklim di mana suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis menghangat setidaknya 1,5 celcius hingga lebih dari 2 celcius di atas rata-rata. Kondisi ekstrem ini memicu perubahan pola cuaca global berskala besar.

Dampak utama dari fenomena El Nino yang kuat ini meliputi, pertama kekeringan ekstrim, kedua gelombang panas dan kenaikan suhu global, dan ketiga ancaman ketahanan pangan.

Reporter: Yayan