GORONTALO, Dulohupa.id – Kabar kepergian H. Rachmat Gobel pada Jumat (10/07/2026) pukul 03.20 WIB di RS Brawijaya, Jakarta Selatan, meninggalkan luka mendalam di hati masyarakat Gorontalo.
Di tanah kelahirannya, doa dan kerinduan mengalir untuk sosok yang dikenal merakyat, pekerja keras, dan tidak pernah lupa pada kampung halamannya.
Almarhum yang tutup usia di 66 tahun ini merupakan putra terbaik Gorontalo. Dari pengusaha nasional, Menteri Perdagangan RI 2014-2015, hingga Anggota DPR RI Komisi XI Fraksi NasDem, nama Rachmat Gobel selalu lekat dengan semangat membangun daerah.
Rumah Adat Gobel Penuh Pelayat

Sejak kabar duka tersebar, Rumah Adat Gobel di Kabupaten Bone Bolango tidak pernah sepi. Masyarakat dari berbagai penjuru Gorontalo datang melayat, memanjatkan doa, dan mengenang jasa-jasa almarhum.
“Beliau itu orangnya sederhana. Walau sudah jadi pejabat dan pengusaha besar, kalau pulang ke Gorontalo tetap mau duduk sama-sama dengan rakyat,” ujar salah satu warga yang datang melayat.
Bagi masyarakat, Rachmat Gobel bukan hanya tokoh politik dan bisnis. Beliau adalah simbol bahwa anak Gorontalo bisa mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.
Gelar Adat “Taa Lo’o Lamahe Lipu”

Sebagai bentuk penghormatan terakhir, Dewan Adat Provinsi Gorontalo menggelar sidang adat di Rumah Adat Gobel untuk memberikan gelar Gara’i kepada almarhum.
Ketua Harian Dewan Adat Provinsi Gorontalo, Alim Niode, menyampaikan gelar yang disepakati adalah “Taa Lo’o Lamahe Lipu”.
“Kalimat lengkapnya Taa Lomaya Lo Batanga, Lo Dunga Lo Nyawa, Lo Tombulu Lo Upango Ode Lamahu Lipu. Artinya: Yang mengorbankan jiwa, raga, dan hartanya untuk terwujudnya kemakmuran negeri,” jelas Alim.
Menurutnya, pemberian gelar ini memiliki dua makna. Pertama sebagai doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Kedua sebagai nasihat dan teladan bagi generasi yang hidup.
“Ini pengakuan adat tertinggi. Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua untuk meneladani pengabdian beliau,” tambahnya.
Jenazah almarhum Rachmat Gobel akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Blok Z 551, Jakarta Selatan, setelah Sholat Jumat.
Meski tidak dimakamkan di Gorontalo, rasa cinta dan doa masyarakat tidak pernah putus. Bendera kuning berkibar, doa tahlil dan yasin terus dilantunkan di masjid-masjid dan rumah warga.
Kepergian Rachmat Gobel memang meninggalkan duka. Tapi semangat, kerja keras, dan cintanya pada Gorontalo akan terus hidup dan menjadi warisan untuk anak cucu.

Al-Fatihah untuk Almarhum H. Rachmat Gobel.
Reporter: Ridhayansa Editor: Enda











