Manado – Sejak resmi berdiri pada 9 Juni 2017, Yayasan Bumi Tangguh (YBT) telah menjadi salah satu organisasi nirlaba yang aktif bergerak dalam penanggulangan bencana, pemulihan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia.
Dalam refleksinya, Ketua Yayasan Bumi Tangguh, Dennie Mamonto menyampaikan bahwa delapan tahun perjalanan ini bukan sekadar tentang memberikan bantuan, tetapi tentang membangun kembali kehidupan bersama masyarakat.
“Kami belajar langsung dari lapangan bahwa pemulihan pascabencana harus berakar dari masyarakat. Ketangguhan bukan hanya soal bangunan fisik, tapi tentang harapan yang tumbuh kembali,” ungkap Dennie, Rabu (11/6/2025).
Dalam kiprahnya, YBT telah terlibat dalam berbagai kegiatan tanggap bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, hingga letusan gunung berapi. Di Lombok (NTB), pascabencana gempa 2018, YBT bersama komunitas lokal membangun lebih dari 700 unit hunian sementara.
Di Sigi, Sulawesi Tengah, sebanyak 600 rumah permanen berhasil dibangun menggunakan metode ferrocement dan retrofit yang ramah gempa, sebagai bagian dari rekonstruksi pascabencana gempa, likuifaksi dan tsunami 2018.
Dalam tragedi tsunami di Lampung tahun 2019, tim YBT turut hadir dalam evakuasi, distribusi logistik, dan penyediaan shelter darurat. Tahun 2023, YBT terus bergerak, termasuk dalam respons banjir bandang di kawasan Danau Tondano di Desa Papakelan, Minahasa, dan banjir bandang di beberapa bagian Kota Manado.
Terbaru, pada awal 2025, YBT turut ambil bagian dalam tanggap darurat letusan Gunung Lewotobi (Laki-laki) di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, dengan memberikan bantuan kemanusiaan, logistik, dan dukungan psikososial bagi warga terdampak.
Perjalanan YBT tidak berhenti pada tahap tanggap darurat bencana saja. YBT telah fokus pada penguatan ketangguhan masyarakat secara berkelanjutan. Salah satunya melalui dukungan kepada Pemerintah Kabupaten Minahasa sejak 2019 dalam mengatasi ledakan populasi eceng gondok di Danau Tondano, yang berdampak pada ekosistem dan aktivitas masyarakat.
Di Likupang, YBT juga melaksanakan program restorasi mangrove yang menyatu dengan penguatan ekonomi perempuan. Kelompok-kelompok perempuan dilibatkan dalam pembibitan, penanaman, serta pengembangan usaha kecil berbasis hasil mangrove, seperti olahan makanan dan kerajinan. Inisiatif ini tidak hanya memulihkan ekosistem, tapi juga menggerakkan ekonomi keluarga dan menumbuhkan kepemimpinan perempuan di tingkat lokal.
YBT berkomitmen untuk terus memperkuat jejaring kemitraan dan kolaborasi lintas sektor. Sejak 2018, YBT juga telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai lembaga nasional maupun internasional, dan dipercaya mengelola dana bantuan berskala besar dari donor internasional, dengan tata kelola yang transparan dan audit independen tahunan. Kepercayaan ini mencerminkan kapasitas manajemen dan akuntabilitas yang terus dibangun dan diperkuat oleh YBT dalam menjalankan setiap programnya.
Fokus utama ke depan meliputi peningkatan kapasitas komunitas dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim, mendorong pemulihan ekonomi dan ekologi pascabencana, serta memperluas advokasi dan kemitraan dengan pemerintah daerah, komunitas akar rumput, dan mitra pembangunan nasional dan internasional.
“Delapan tahun ini hanyalah awal. Kami akan terus berjalan bersama masyarakat, bukan untuk menjadi pahlawan, tapi menjadi bagian dari solusi yang tumbuh dari gotong royong. Karena ketangguhan tidak dibangun dalam satu malam—ia ditempa bersama, di tengah krisis, dengan semangat tak kenal menyerah,” pungkas Dennie Mamonto.
Rls











