Dulohupa.id – Tempat penjualan daging sapi yang berada di Jalan Tondano, Kecamatan Sipatan, Kota Gorontalo terpantau sepi pembeli. Salah satu dedagang daging sapi, Ino mengatakan bahwa, berkurangnya pembeli daging bukan disebabkan adanya isu penyakit antraks yang menyerang sapi yang ada di Gorontalo.
“(pembeli daging) berkurang, jelas berkurang tapi bukan karena adanya sapi yang kurang sehat. Bukan dari situ,” ujar Ino kepada Dulohupa pada Rabu (17/07/2024).
Menurutnya, sepinya pembeli daging sapi saat ini memang sudah bulan-bulannya minat masyarakat membeli daging
“Kalau ramainya itu waktu pasar (untuk penjualan daging sapi),” jelasnya.
Selain itu, Ino mengungkapkan salah satu penyebab kurangnya pembelian daging sapi akibat bencana banjir yang menerjang Gorontalo beberapa waktu kemarin.
Saat ini penjualan daging sapi di bandrol dengan harga 130 ribu perkilonya, sementara 50 ribu untuk harga tulang sapi perkilo gramnya.
Sebelumnya, warga Gorontalo dihebohkan dengan beredarnya Surat Edaran dari Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) tentang penutupan sementara pemasukan hewan ternak asal Provinsi Gorontalo.
Dalam isi surat edaran. Gorontalo disebut berstatus tertular penyakit anthraks pada hewan ternak di ke-6 wilayah kabupaten/kota berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 311/Kpts/Pk.320/M/06/2023.
Hal ini memicu kekhawatiran masyarakat di Gorontalo.
Sebelumnya Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, melalui Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Averus Zainudin membantah adanya informasi mengenai penyebaran penyakit antraks pada hewan ternak di Gorontalo.
Kata Averus, Surat Edaran nomor 8 tahun 2024 yang di keluarkan oleh Gubernur Sulteng berdampak meresahkan masyarakat Provinsi Gorontalo.
“Surat Edaran tersebut sangat merugikan Provinsi Gorontalo yang selama ini menjadi pemasok sapi secara rutin ke wilayah pulau Kalimantan, antara lain Balikpapan, Tarakan dan bahkan juga ke wilayah Sulteng maupun Sulawesi Utara (Sulut),” pungkasnya.
Menurutnya, sepanjang dilakukan uji anthraks di UPTD Laboratorium Veteriner sejak tahun 2021, sejumlah 3.129 sampel, tahun 2022 sejumlah 3.436 sampel, tahun 2023 sejumlah 5.449 sampel dan tahun 2024 (Januari-Juli) sejumlah 3.919 sampel semua menunjukan hasil uji negative antraks.
“Kasus anthraks yang terakhir terjadi adalah pada Juni tahun 2020 di Desa Daenaa, Kabupaten Gorontalo. Itupun sudah dilakukan pengendalian dan penanganan sesuai dengan SOP penanganan anthraks. Sampai saat ini tidak pernah terjadi kasus penyakit anthraks lagi di Gorontalo,” tegasnya.
Reporter: Yayan











