Scroll Untuk Lanjut Membaca
BUDAYAGORONTALOPERSPEKTIF

Melestarikan Warisan Budaya Melalui Pagelaran Seni di Universitas Negeri Gorontalo

×

Melestarikan Warisan Budaya Melalui Pagelaran Seni di Universitas Negeri Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Warisan Budaya
Kegiatan Mahasiswa Hindu Darma Ning Çarasvaty Universitas Negeri Gorontalo melakukan kegiatan pagelaran seni. Foto: Citra Pratiwi

Gorontalo – Warisan budaya adalah benda atau atribut tak berbenda merupakan jati diri suatu masyarakat atau kaum yang diwariskan dari generasi-generasi sebelumnya untuk dilestarikan kepada generasi akan datang.

Warisan budaya memainkan peran penting dalam mempertahankan identitas dan sejarah suatu masyarakat serta mempromosikan pemahaman lintas budaya.

Namun sayangnya, banyak generasi muda yang terpengaruh budaya luar seperti cara berpakaian, kegemaran musik, serta budaya lainnya yang memberi dampak negatif terhadap perilaku, kebiasaan, tradisi serta adat istiadat. Membahas tentang budaya tentunya tidak terlepas dari kesenian yang merupakan bagian hidup masyarakat yang mengandung nilai estetika dan berpegang teguh pada tradisi.

Sehingga, Unit Kegiatan Mahasiswa Hindu Darma Ning Çarasvaty Universitas Negeri Gorontalo melakukan kegiatan pagelaran seni. Kegiatan pagelaran seni dilaksanakan di Wantilan (tempat bermusyawarah) Pura Girinatha Gorontalo. Kegiatan dibuka oleh wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Muhammad Amir Arham, S.Pd, M.E,.

Kegiatan ini berlangsung pada hari Jumat tanggal 08 September 2023. Seluruh mahasiswa maupun mahasiswi baru menampilkan beberapa tarian daerah Bali seperti tari Puspanjali, tari Cendrawasih dan tari Panjembrama. Tari Panjembrama yang merupakan sebuah bentuk tari Bali sekuler yang didesain oleh I Wayan Berata dan pertama kali ditampilkan pada 1971. Tarian ini merupakan tarian penyambutan tamu istimewa meliputi gerakan dari beberapa tarian sakral Bali.

Selanjutnya, Persembahan Genjek oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi baru. Genjek merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang berkembang di Kabupaten Karangasem yang sangat digemari. Genjek adalah sebuah genre seni yang menggunakan vokal sebagai sumber bunyi utama. Sumber vokal berasal dari sepuluh sampai dua puluh orang pemain dengan pembagian vokal yakni 1 orang sebagai pembawa melodi sekaligus komando, 1 orang pemegang ritme dan yang lainnya membuat jalinan ritmis dengan suara-suara seperti sapak, spriang, cek, de, tudeng, tut, ces, byos, tria, tipung, ces, jengsi, sir, kesek.

Suara-suara tersebut meniru bunyi instrument gamelan Bali seperti kajar/tawa-tawa, cengceng, kendang, reong dan gong. Jalinan dan perpaduan yang harmonis dari berbagai jenis warna suara itulah yang membentuk sebuah musik yang disebut genjek (Sugiartha, I GA,2016:3).

Tema lagu-lagu Genjek antara lain kegembiraan, keindahan, romantisme, rayuan, nasehat dan kritik sosial. Genjek ini adalah sebuah kesenian yang merupakan sebuah adaptasi dan kreatifitas serta kreasi dari kesenian cakepung yang sudah lebih dulu dikenal dan dilakoni oleh seniman Karangasem khususnya seniman Budakeling yang secara langsung datang ke Lombok untuk mempelajari Cepung. Genjek sifatnya sangat spontan, tidak harus mengikuti pakem/uger-uger dalam melantunkan lagunya, bahasa yang digunakan Bahasa Bali yang sederhana dan mudah dimengerti dan biasa dilakukan untuk bersenda gurau, menghibur diri, menghilangkan kepenatan ketika istirahat beraktivitas.

Dimana kegiatan pagelaran seni ini merupakan sebuah kegiatan pendidikan nonformal yang berlandaskan budaya Bali yang dipentaskan. Kegiatan ini adalah salah satu program yang dibuat secara sadar untuk mengarahkan calon mahasiswa kearah yang lebih positif yang berlandaskan nilai – nilai budaya.

Agama Hindu di wilayah provinsi Gorontalo sendiri merupakan agama minoritas yang jumlahnya tidak sampai 5000 jiwa, melalui kegiatan pagelaran seni yang di buat oleh UKMH-DNÇ Universitas Negeri Gorontalo, dapat membangkitkan semangat untuk melestarikan budaya warisan leluhur serta agar generasi muda tidak lupa dan justru mereka bangga dengan budaya warisan leluhur sebagai bentuk rasa cinta terhadap tanah air.

Mengingat sekarang pendidikan karakter sangat ditekankan dalam dunia pendidikan karena bangsa ini telah mengalami krisis karakter yang tidak lain dan tidak bukan akibat dari generasi muda yang sudah mulai lupa tentang adat istiadat, norma-norma, nilai-nilai, serta kebudayaan warisan leluhur kita. Perlu diingat bangsa yang kuat adalah bangsa dengan generasi berkarakter serta cinta akan tanah air.

Penulis: Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Ni Putu Citra Pratiwi

Dosen PGSD FIPP Universitas Negeri Semarang, Dr. Eka Titi Andaryani, S.Pd., M.Pd