Scroll Untuk Lanjut Membaca
HEADLINEKAB. GORONTALOPERISTIWA

Sejumlah Tempat Usaha di Pone Terbakar, Pemilik Bangunan Rugi Rp800 Juta

×

Sejumlah Tempat Usaha di Pone Terbakar, Pemilik Bangunan Rugi Rp800 Juta

Sebarkan artikel ini
Kebakaran Tempat Usaha
Kondisi sejumlah bangunan yang dijadikan tempat usaha pasca kebakaran di Desa Pone, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Foto: Herman Abdullah

Dulohupa.id – Kebakaran di depan kampus II Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo yang terletak di Desa Pone, Kecamatan Limboto Barat menyebabkan sejumlah tempat usaha hangus dilalap api, Jumat (13/10/2023) malam.

Razik Luneto (32), pemilik bangunan yang dijadikan tempat usaha itu mengaku alami kerugian mencapai Rp800 juta, belum termasuk isi dalam bangunan.

Razik menyebut sejumlah bangunan miliknya itu dikontrakan oleh orang lain untuk mendirikan usaha. Adapun bangunan tempat usaha yang terbakar adalah 1 depot, kos-kosan terdapat 7 kamar, 1 butik, dan 1 kantin.

“Kalau dari sisi bangunan itu kurang lebih 800 jutaan. Itu baru bangunan pak, di luar isi. Saya tidak bisa taksir isi dalam bangunan, karena tiap bangunan itu sudah ada yang kontrak,” ungkap Razik saat diwawancarai dulohupa, Sabtu (14/10/2023).

Pemilik Tempat USaha
Razik Luneto, pemilik bangunan yang alami kerugian ratusan juta rupiah, foto/Herman Abdullah

Beruntung kata Razik, musibah kebakaran ini tidak menimbulkan korban jiwa. Sebab, para mahasiswa yang tinggal di kos-kosan tidak berada di tempat saat terjadi kebakaran.

“Cuman kalau korban materi itu cukup banyak. Apalagi anak-anak mahasiswa. Dari baju, laptop berkas lainnya itu terbakar habis. Jadi sekarang itu mahasiswa yang kontrak di saya itu kebanyakan yang tersisa hanya pakaian di badan saja,” ujar Razik.

Atas kejadian yang menimpa dirinya, Razik berharap kepada pihak Pemerintah Daerah setempat untuk datang berkunjung melihat langsung keadaan yang ia alami.

“Saya berharap ada bantuan atau uluran tangan dari pemerintah khususnya kepada korban yang tertimpa bencana ini,” pinta Razik Luneto.

Reporter: Herman Abdullah