Scroll Untuk Lanjut Membaca
KESEHATANPEMPROV GORONTALO

Gorontalo Masuk Prevalensi Stunting Tertinggi di Indonesia, Ini Faktornya!

×

Gorontalo Masuk Prevalensi Stunting Tertinggi di Indonesia, Ini Faktornya!

Sebarkan artikel ini
Prevelansi Stunting Gorontalo
Suasana usai kegiatan sosialisasi GRASS dalam pencegahan stunting, Selasa (10/10/2023).

Dulohupa.id –  Angka prevalensi (Kasus) stunting Gorontalo masih diatas ambang batas yang ditetapkan WHO, yaitu 23,8% dan memiliki presentase tertinggi di Indonesia.

Diantara faktor penyebab tingginya angka prevalensi stunting ini berkaitan dengan angka kemiskinan ekstrem Gorontalo yang mencapai 4,28%. Selain itu, penyajian makanan lauk tinggi protein masih belum menjadi budaya konsumsi masyarakat.

Meskipun Gorontalo dikenal sebagai salahs at daerah penghasil ikan, ternyata tidak menjamin bebas dari permasalahan gizi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo Anang Otoluwa, pada acara sosialisasi mengatakan bahwa masalah gizi di Gorontalo salah satunya diakibatkan karena adanya kesalahan persepsi masyarakat mengenai pangan.

“Memang iklan ini (kental manis adalah susu) dari produsen sangat menancap di masyarakat dan menjadi mindset ibu-ibu yang mengatakan kental manis adalah susu. Maka dari itu, hasil pertemuan ini harus disebarkan bahwa kental manis bukan susu,” papar Anang Otoluwa pada kegiatan sosialisasi GRASS dalam cegah stunting, Selasa (10/10/2023).

Anang juga mengatakan Pemerintah Provinsi Gorontalo akan mulai melakukan sosialisasi mengenai kental manis bukan susu. Hal ini mengacu pada Peraturan Kepala (Perka) BPOM No.31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Dirinya menjelaskan bahwa upaya ini akan dilakukan untuk mengubah persepsi masyarakat tentang kental manis yang dianggap susu.

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Gorontalo, Yana Yanti Suleman secara tegas mengatakan bahwa, pernikahan dini juga memiliki kaitan dengan tingkat permasalahan gizi yang ada di Gorontalo selain angka kemiskinan ekstrem.

Menurut Yana, perlu adanya bombardier informasi tentang kental manis bukan susu, sama halnya dengan kampanye pencegahan pernikahan dini untuk merubah persepsi masyarakat. Agar angka pernikahan dini dan stunting di Provinsi Gorontalo dapat berkurang.

“Sama halnya dengan kampanye pencegahan nikah dini, kampanye kental manis bukan susu juga akan menemui tantangan. Oleh karena itu perlu adanya bombardier informasi dari seluruh pihak termasuk media massa tentang kental manis bukan susu,” Ujar Yana yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Majelis Kesehatan Aisyiyah Gorontalo.

Selain itu, spesialis gizi klinis dari Rumah Sakit (RS) Aloei Saboe, Ceci Karim menjelaskan bahwa kental manis melalui proses pengawetan dan penambahan gulanya sangat tinggi, sehingga gizinya menjadi sangat kurang dan tidak baik dikonsumsi oleh bayi atau balita.

“Kenapa kental manis tidak baik dikonsumsi? karena proses pemanasan atau pengawetannya sangat tinggi dan penambahan gulanya juga sangat tinggi, 40 – 50% kandungan gulanya sehingga gizinya sudah sangat kurang padahal anak butuh asupan gizi yang seimbang,” ungkap Ceci Karim.

Reporter: Yayan