Dulohupa.id – Dalam rangka menyamakan persepsi terhadap layanan industri yang bergerak di sektor pariwisata, Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo menggelar Focus Group Disscusion (FGD) Standarisasi Layanan Industri Jasa Pariwisata yang digelar di Grand Q Hotel Gorontalo, Senin (17/2/2020).
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo Rifli Katili menyampaikan tujuan kegiatan tersebut tidak lain untuk menyamakan persepsi terhadap layanan industri yang bergerak di sektor pariwisata. Pasalnya, industri jasa pariwisata di Gorontalo baru bisa memenuhi beberapa komponen saja dari standar baku.
“Misalnya dalam jasa perhotelan dan restoran. Masih ada jasa lainnya yang butuh standarisasi. Karena wisatawan yang berkunjung ke satu daerah, di samping membutuhkan akomodasi dan kuliner, juga tujuan ke destinasi. Inilah yang kita sasar, termasuk pokdarwis (kelompok sadar wisata),” ujar Rifli.
Dia menambahkan, dalam FGD ini pula Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo akan membahas tentang standarisasi pramuwisata atau tour guide.
“Di daerah lain untuk seorang pramuwisata, satu hari sudah ada standarisasinya, tetapi kita tidak ada. Ini juga yang akan kita susun supaya ada kepastian bagi kita pengguna jasa pramuwisata, satu hari itu berapa. Jangan kita datang sama si A tarifnya 500, saya ke si B 200, dan ternyata ada yang lebih murah lagi,” kata Rifli.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo Darda Daraba yang membuka FGD tersebut berharap industri jasa pariwisata di Gorontalo harus memiliki standarisasi layanan yang seragam. Hal tersebut, lanjut Darda, akan berdampak pada kunjungan wisatawan baik itu mancanegara maupun domestik.
“Pariwisata di Gorontalo cukup pesat peningkatannya. Sudah sepantasnya kita punya kesamaan persepsi terkait standarisasi layanan yang harus kita terapkan di Provinsi Gorontalo. Kalau tidak di standarisasi, bisa-bisa yang kabupaten ini standar pelayanan lebih tinggi dari kabupaten lain,” urai Darda.
Dengan adanya standarisasi layanan ini juga dapat membantu para pelaku industri pariwisata mengukur tingkat kepariwisataan di Gorontalo.
“Tujuannya ketika ada standarnya, kita bisa mengukur sejauh mana tingkat layanan pariwisata untuk tahun-tahun berikutnya,” kata dia. (adv)











