Banggai – Nelayan Gurita di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, sudah dua tahun belakangan ini mulai memperbaiki lokasi tangkapnya dengan praktik yang baik. Para nelayan di sana mulai memberlakukan pengelolaan perikanan berkelanjutan dengan daya dukung pendataan berbasis digital.
Salah satu nelayan setempat Mansur Tatting (40) mengatakan, keseharian nelayan di Desa Uwedikan sebagian besar adalah mencari dan menangkap gurita sebagai penghidupan untuk kebutuhan keluarga di rumah.
Penamaan Desa Uwedikan sendiri diambil dari bahasa Suku Saluan yang berarti daerah ikan. “Uwe” artinya air, serta “Dikan” adalah ikan. Seantero wilayah Luwuk mengenal daerah ini surganya para ikan. Bukan hal yang lazim lagi jika Desa Uwedikan kekurangan ikan.
“Kami menangkap apa saja di sini. Saya kadang mencari gurita juga ada, memukat ikan juga dapat, mencari teripang juga hasilnya banyak, mencari kepiting bakau pasti dapat. Begitu seterusnya kehidupan nelayan di sini,” terang Mansur.
Namun, kelimpahan ikan yang ditangkap nelayan seringkali terabaikan oleh pendataan, sehingga potensi perikanan yang melimpah di daerah tersebut sulit untuk dikenali. Padahal, dengan letak Desa Uwedikan sebagai desa pesisir, berpeluang menjadikan desa ini menjadi terdepan, maju, baik dari tata kelola desa hingga perekonomiannya. Masalah lainnya juga ialah soal akses internet yang belum merata, tapi warga desa sudah terbiasa dan telah berdamai dengan keadaan.

Mansur bercerita, sejak 20 tahun terakhir hasil tangkapan nelayan di desa mengalami penurunan, tidak sebanyak dulu. Jika dibandingkan semasa ia kecil, warga desa dengan mudahnya mencari dan menangkap ikan tidak jauh dari rumah. Tidak seperti sekarang ini. Salah satu penyebabnya mungkin mulai banyaknya warga desa yang tinggal di Uwedikan, sehingga ikan berkurang di laut Uwedikan, katanya.
“Sekarang mulai susah ikan, tidak seperti dulu,” katanya.
Menurut Mansur, salah satu hasil laut yang memang menjanjikan saat ini adalah gurita. Ia juga tidak tahu secara pasti kenapa harga gurita lima tahun terakhir harganya mulai membaik. Padahal sebelumnya gurita tidak ada harganya dan hanya ditangkap untuk dijadikan konsumsi saja.
“Gurita ini dulu tidak ada harganya, dan cuma kami orang bajo yang menangkapnya. Sekarang sudah bagus, bisa dijual,” terangnya.
Mansur tidak menyadari, gurita merupakan komoditas hasil laut yang sangat menjanjikan. Gurita diperdagangkan sampai ke luar negeri. Indonesia merupakan salah satu negara yang paling aktif mengekspor gurita ke luar negeri dengan negara tujuan seperti Amerika, Korea, China, Jepang dan Meksiko. Tingginya permintaan tersebut membuat harga gurita tinggi dipasaran.
Data yang dirilis pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2020 saja memperlihatkan produksi perikanan Indonesia khususnya gurita sangat menjanjikan. Sebanyak 55.913 ton dengan besaran nilai produksi Rp1,2 triliun dieskpor ke luar negeri.
KKP juga merilis tiga provinsi penghasil gurita terbanyak, salah satunya wilayah Sulteng. Produksi Gurita Sulteng berada urutan kedua sebesar 10.411 ton, melebihi Jawa Timur dengan hasil produksi sebesar 7.838 ton, dan masih tertinggal dari produksi Nusa Tenggara Timur dengan daerah produksi gurita terbanyak pertama dengan besaran produksi 19.102 ton. Tingginya hasil produksi gurita dari Sulteng turut disumbang hasil tangkapan oleh nelayan di Uwedikan. Namun, kerap kali potensi ini tidak terbaca dan tidak terdeteksi, apalagi buat Mansur seorang diri yang tidak sadar dengan potensi yang ada di desanya.
“Sekarang harga gurita antara 60-70 ribu. Berbeda dengan dulu, jadi semua memburu gurita sekarang,” ucap Mansur.
Melihat permintaan yang tinggi tersebut, Mansur terus menangkap gurita untuk memenuhi kuota permintaan pengepul di tingkat desa. Ketidaktahuan Mansur akan potensi perikanannya ini yang membuat dirinya semena-mena dengan hasil laut yang ada di desa, yang tidak begitu khawatir dengan aktivitas yang dia lakukan akan memberi dampak negatif, berupa overfishing.
Dan bagi Mansur, apalah sebuah perubahan zaman jika tidak bisa memenuhi kebutuhan dapurnya sehari-hari. Mansur adalah orang yang tidak peduli sama sekali dengan perubahan yang terjadi, selain ia turun mencari gurita di laut. Hingga pada suatu hari, saat dia dipertemukan dengan sebuah aktivitas baru, dan Mansur berubah.
Saban hari saat Mansur kembali dari laut, ia bertemu dengan seseorang yang dia kenal, seorang anak muda yang sehari-hari mendata hasil tangkapan nelayan khususnya gurita. Anak muda itu hampir setiap harinya menunggu nelayan balik dari melaut dan mendata hasil tangkapan yang ada. Pendata lokal itu bernama Rahmat, ia bekerja untuk Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda), tugasnya sebagai enumerator di desanya.
Japesda sendiri sebuah lembaga organisasi non pemerintah yang berkantor di Gorontalo, yang sedang melakukan program pengelolaan perikanan berkelanjutan berbasis masyarakat di Desa Uwedikan.
Rahmat dan Mansur, dua orang lokal yang bergeliat dalam program tersebut. Tugas Rahmat mendata hasil tangkapan nelayan, serta Mansur belajar bagaimana data tangkapannya digunakan sebagai pijakan untuk menentukan wilayah tangkapnya agar tetap terjaga, berkelanjutan. Khususnya melalui data tangkapan para nelayan yang sudah terkumpulkan melalui teknologi canggih–tablet atau gawai, yang sehari-hari digunakan oleh sang enumerator desa.
“Saya baru tahu juga kalau hasil tangkapan kami bisa di data menggunakan alat canggih itu,” beber Mansur dengan keheranan.

Belajar dari Data
Rahmat (24) siang itu sedang menuju rumah-rumah nelayan Suku Bajo, yang notabenenya penangkap gurita. Berbekal buku kecil dan pulpen di tangan kiri, dan tablet di tangan kanan, ia melenggang dengan gagah. Kesibukannya akan segera dimulai, mendata hasil tangkapan nelayan khususnya gurita.
“Saya mulai mendata tahun 2021 kemarin, saya kemudian belajar tentang pentingnya data untuk potensi perikanan yang ada di desa,” ujar Rahmat, kepada Dulohupa.id (10/9).
Aktivitas yang Rahmat lakukan ialah mendata tangkapan secara sensus dari rumah ke rumah, berpindah-pindah dari nelayan satu ke nelayan yang lain. Dan menurutnya, pendataan ini bisa dilakukan ke semua jenis tangkapan bukan hanya gurita saja.
“Yang di data itu dari bobot, jenis kelamin, biologi gurita, lokasi menangkap, biaya yang dikeluarkan, serta waktu pergi memancing dan jenis perahu yang digunakan,” jelasnya.

Pendataan ini menurutnya wajib dilakukan, karena selama ini hasil tangkapan nelayan kurang terdata. Apalagi potensi perikanannya seperti gurita yang banyak di dapat di Uwedikan, tapi masih kurang diperhatikan.
“Data itu saya tulis di buku kecil, lalu saya input ke tablet dan harus menggunakan jaringan internet, nantinya data yang dikirim melalui aplikasi ini akan dianalisis baru diserahkan kembali kepada nelayan.”
Dari data yang dikumpulkan itulah, yang membuat Mansur melek akan hasil tangkapannya selama ini dan bagaimana hasil itu mempengaruhi pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah.
“Saya juga baru tahu kalau hasil kami di data, kami bisa melihat bagaimana pendapatan kami meningkat atau menurun,” kata Supardi Yinata, nelayan gurita Uwedikan.
Kata Rahmat, setiap tiga bulan sekali data hasil tangkapan dikembalikan kepada nelayan. Melalui kegiatan umpan balik data, semua para nelayan diundang untuk hadir, kemudian di paparkanlah data tangkapan mereka selama tiga bulan terakhir. Hasilnya bisa terlihat, apakah selama tiga bulan tangkapan naik atau malah turun, dan faktor apa saja yang menyebabkannya.
“Selain cuaca, salah satu yang mempengaruhi hasil tangkapan adalah perilaku nelayan yang menangkap gurita dengan semua ukuran, kecil dan besar, ini juga mempengaruhi populasinya,” terang Rahmat sekali lagi.
Direktur Japesda Nurain Lapolo menerangkan, pendataan data tangkapan itu berguna untuk melihat sejauh mana potensi perikanan yang ada di desa, dan soal perilaku penangkapan yang berlebihan yang dapat mempengaruhi stok gurita di alam.
“Kalau penangkapan tidak memerhatikan besar dan kecil, maka akan terjadi over fishing. Dalam dunia perikanan ini adalah ancaman, perlu ditindaklanjuti dengan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, tentunya harus berdasar pada data yang kuat juga,” jelas Nurain.
Nurain memperjelas, penangkapan yang melebihi itu sebenarnya, selain tidak baik untuk kembangbiaknya biota, juga bisa berdampak pada ekosistem sekitarnya seperti terumbu karang sebagai rumah dari para biota laut. Selain itu juga, harga jual gurita yang kecil tidak akan memberi dampak yang signifikan pada pendapatan nelayan, berbeda dengan tangkapan gurita yang besar. “Kerja keras nelayan seharian mencari gurita dan mendapatkan gurita dengan ukuran kecil hanyalah sebuah usaha yang sia-sia.”
“Berdasar pada data ini juga kami mengajak nelayan beserta masyarakat dan pihak pemerintah desa untuk melakukan intervensi pada pengelolaan perikanannya, salah satunya dengan metode melakukan penutupan sementara lokasi tangkap selama tiga bulan lamanya, setelah itu dibuka kembali,” Nurain memperjelas.
Pendataan yang dilakukan oleh Rahmat, sebuah upaya untuk melihat bagaimana hasil tangkapan nelayan saat dilakukan pendataan, dan bagaimana Rahmat belajar juga betapa pentingnya data tersebut bagi potensi sumber daya alam terutama laut.
Berdaya di Laut
Penutupan sementara merupakan sesuatu yang baru didengar nelayan gurita di Desa Uwedikan. Metode pengelolaan perikanan berkelanjutan ini telah lama dipraktekkan oleh masyarakat adat yang berada di wilayah Ambon dan sekitarnya dengan sebutan lokal sasi, dan di Papua mereka mengenalnya Itaitiki.
Masyarakat Uwedikan berbeda dengan masyarakat yang ada di Papua dan Ambon, yang sudah turun temurun mempraktikan pengelolaan berkelanjutan tersebut untuk wilayah desanya. Akan tetapi, dengan beragamnya suku yang tinggal di Uwedikan, keputusan tersebut harus diambil secara bersama, agar disepakati secara mufakat.
Model penutupan sementara ini, tujuannya untuk menutup sementara lokasi tangkap gurita, karena ini adalah hal yang baru bagi masyarakat, sehingga mereka menyepakati pengelolaan tersebut dengan kalimat “Menabung di Laut”.
Menabung di laut sama halnya dengan Sasi atau Itaitiki. Yakni, menjaga wilayah laut dari aktivitas tangkapan yang berlebihan, merusak ekosistem terumbu karang, dan melakukan tangkapan yang bersifat merusak lainnya, dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati. Tujuannya agar ekosistem terumbu karang terjaga dan memberikan kesempatan biota laut untuk hidup lebih lama. Agar saat panen dilakukan biota laut dalam ukuran yang ideal saat ditangkap.
“Tidak lama. Hanya ditutup selama tiga bulan, lalu dibuka kembali, dan masyarakat bisa memanen tabungan mereka di laut tersebut,” ungkap Rahmat.
Anwar Pinous (48), seorang nelayan gurita yang telah lama menangkap gurita pada awalnya ragu dengan sistem menabung di laut ini. Keraguannya berdasar pada hasil yang akan didapatkan nanti. Apakah berhasil atau tidak, tapi semua keraguan Anwar ditepis dengan data yang dikumpulkan..
“Saya memang ragu pada awalnya, tapi setelah dilakukan penutupan saya melihat ada yang aneh di situ. Saya merasa bobot gurita bertambah, data tangkapan saya juga saya liat membaik,” ujar Anwar penuh semangat.
Staf Ekonomi Japesda, Indira Moha menuturkan, memang terjadi tren peningkatan terhadap tangkapan nelayan gurita di Desa Uwedikan. Saat dibandingkan dengan data sebelum dilakukan penutupan sangat jauh berbeda. Indira menerangkan, bobot tangkapan gurita nelayan naik dua kali lipat, yang biasanya berhasil menangkap dengan bobot 1 kg, kini rata-rata tangkapan di atas 2 kg.
“yang biasanya hanya mendapatkan 50 ribu rupiah, saat penutupan dilakukan rata-rata penghasilan nelayan khususnya gurita di atas 200-300 ribu per harinya,” kata Indira.
Menurutnya juga, perputaran uang di Desa Uwedikan saat penutupan sementara dibuka berkisar antara 3-5 juta per harinya.
Akibat dari penutupan sementara itulah yang membuat hasil tangkapan nelayan gurita melimpah, geliat ekonomi di desa bergema. Mereka bersepakat memasukan agenda penutupan tersebut rutin dilakukan setiap tahunnya.
“Bulan September ini kita akan menabung di laut untuk kedua kalinya. Harapan kami tetap sama, ingin merasakan manfaat dari apa yang kami lakukan terhadap wilayah laut kami,” tegas Anwar.
Keuntungan penutupan bukan hanya dirasakan oleh nelayan, para istri mereka juga kecipratan berkah. Mereka tidak perlu takut lagi memikirkan pendapatan yang tidak menentu para suami mereka. Berkat penutupan mereka bisa menyisihkan hasil tangkapan suami untuk kebutuhan bulan-bulan berikutnya.
“Kalau dulu keuangan sulit sekali. Memang banyak tangkapan suami, tapi sedikit uangnya. Sekarang ini biar hanya dapat satu atau dua ekor sudah lumayan hasilnya,” beber Ramla, satu dari sekian istri nelayan yang merasakan dampak baiknya dari menabung di laut.
Penutupan sementara, sasi, atau itaitiki adalah sebagai langkah awal masyarakat pesisir mulai melakukan mitigasi terhadap perubahan iklim dengan cara mengelola wilayah tangkap mereka secara berkelanjutan. Pengelolaan perikanan berkelanjutan dapat membantu ekosistem terumbu karang tetap terjaga dan memperlambat kegiatan overfishing yang semakin marak dilakukan oleh nelayan di desa.
Kini, melalui pendataan berbasis digital yang masif dilakukan, nelayan, masyarakat desa, kelompok perempuan, dan pemerintah desa belajar melalui data yang ada, untuk mengelola potensi perikanan di desa tetap berkelanjutan. Meski sempat terpuruk dilanda pandemi beberapa tahun terakhir, masyarakat Uwedikan tengah bersiap menghadapi dunia yang baru untuk tumbuh lebih kuat, berdaya dengan potensi yang ada.
“Penutupan ini akan kami laksanakan terus, biar berkelanjutan. Kami yang merasakan dampaknya, ekonomi kami membaik, lebih baik dari saat-saat covid kemarin,” kata Anwar dengan lirih dan penuh harap.
Penulis: Zukifli Mangkau











