Scroll Untuk Lanjut Membaca
banner
PERISTIWA

Petani Pohuwato Mengeluh, Harga Jagung Anjlok Sementara Harga Herbisida Cair Melonjak

×

Petani Pohuwato Mengeluh, Harga Jagung Anjlok Sementara Harga Herbisida Cair Melonjak

Sebarkan artikel ini
Ismet Nur salah satu petani yang ada di Kabupaten Pohuwato, saat mau membeli obat-obatan untuk proses pengolahan tanah yang akan di tanami jagung, dan dirinya kaget dengan harga Herbisida Sistemik yang sangat mahal/Hendrik Gani
Ismet Nur salah satu petani yang ada di Kabupaten Pohuwato, saat mau membeli obat-obatan untuk proses pengolahan tanah yang akan di tanami jagung, dan dirinya kaget dengan harga Herbisida Sistemik yang sangat mahal/Hendrik Gani

Dulohupa.id- Para petani di Kecamatan Paguat, Pohuwato, mengeluhkan harga herbisida cair yang melonjak. Lonjakan itu dikeluhkan karena berbanding terbalik dengan harga jagung yang justru turun. 

Dari pantauan dulohupa.id, harga herbisida cair dengan berbagai merek di pasaran dipatok dengan harga Rp 125 ribu. Padahal, harga sebelumnya hanya ada di Rp 69 ribu. 

Ismet Nur, petani di Kecamatan Paguat mengaku, dirinya dilema antara mau menanam kembali jagung atau tidak. Katanya, untuk bisa menanam kembali, ia harus merogoh kantong lebih untuk biaya proses penanaman. Sementara hasil panen, justru tidak mampu mengembalikan modal awal. 

“Saya ini sudah bingung, mau menanam jagung ulang apa tidak, soalnya sekarang ini harga jual jagung di pasaran menurun, sehingga hasil yang kita dapatkan tidak sebanding dengan apa yang kita keluarkan saat proses tanam,” ujar Ismet Nur, Sabtu (23/10/2021). 

“Saya berharap ke pemerintah daerah agar bagaimana petani-petani ini bisa diperhatikan, sebab kemana lagi kami harus bergantung kalo bukan ke pemerintah itu sendiri. Apa lagi dengan visi misi bupati kita yaitu masyarakat sehat maju sejahtera.” tambah Ismet.

Sementara itu, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) RI Badan Advokat Indonesia (BAI) Provinsi Gorontalo, Masrin Kone mengaku, prihatin dengan apa yang jadi keluhan masyarakat, sebab menurutnya petani adalah ujung tombak pangan yang mestinya lebih diperhatikan.

“Saya merasa prihatin dengan apa yang dialami oleh petani-petani kita, sebab para petani ini yang menggerakan bahan pangan, yang menjadi kebutuhan kita bersama selama ini,” ujar Masrin Kone.

Dirinya pun mendorong pemerintah daerah agar bagaimana kesejahteraan para petani harus diperhatikan, karena di Kabupaten Pohuwato bahkan di Provinsi Gorontalo banyak masyarakat yang bergantung pada hasil pertanian.

“Saya mendorong pemerintah daerah agar bagaimana kesejahteraan petani itu harus diperhatikan, sebab banyak masyarakat yang bergantung di apa yang mereka hasilkan. Miris sih, jika pemerintah daerah tidak menjawab persoalan ini, sebab pertanian ini menjadi prioritas, karena Kabupaten Pohuwato adalah lumbung pertanian di Provinsi Gorontalo,  dan jika tidak ada petani maka kebutuhan pangan tidak akan terpenuhi,” tutupnya.**