Scroll Untuk Lanjut Membaca
PEMKAB GORONTALOPERISTIWA

Nelson Pomalingo Mulai Tinggalkan Pembelajaran Daring: Banyak yang Nikah

×

Nelson Pomalingo Mulai Tinggalkan Pembelajaran Daring: Banyak yang Nikah

Sebarkan artikel ini
Pembelajaran tatap muka di Kabupaten Gorontalo diberlakukan/Fandiyanto Pou
Pembelajaran tatap muka di Kabupaten Gorontalo diberlakukan/Fandiyanto Pou

Dulohupa.id- Pemerintah Kabupaten Gorontalo kini mulai membuka sekolah jenjang Paud, TK, SD, dan SMP di wilayah tersebut. Pencanangan sekolah tatap muka atau pembelajaran tatap muka (PTM) itu dilakukan oleh Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo di Aula SMP Negeri 2 Limboto, Rabu (1/9).

Nelson pun mengungkapkan, ada tiga alasan kenapa pihaknya mulai membuka sekolah di wilayah tersebut, dan perlahan meninggalkan pembelajaran daring. Pertama, pembelajaran daring tidak efektif, kedua sudah banyak yang nikah dini, serta sudah banyak yang putus sekolah, dan ketiga, banyak siswa di sekolah dasar yang belum bisa membaca.

Nonton videonya:

“Tiga dampak itu yang harus dihilangkan, karena kalau terus kita (pemerintah) lakukan pembelajaran daring, dampak itu akan terus meningkat, sudah banyak yang nikah dini dan putus sekolah, apalagi siswa yang sulit belajar membaca,” ujar Nelson ditemui Dulohupa.id usai kegiatan. 

Lebih lanjut Nelson menjelaskan, pembukaan belajar tatap muka ini harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Hal ini juga kata Nelson, merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi pemerintah pada beberapa bulan kemarin.

“Persyaratannya harus terus menaati aturan yang ada, yakni protokol kesehatan terus dipantau, siswa harus ada persetujuan orang tua dan tentunya siswa sudah divaksin. Ini juga menjaga penyebaran Covid-19 serta tetap menjamin pendidikan untuk peserta didik,” jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Zubair Pomalingo mengatakan, pembelajaran tatap muka ini diberlakukan, tapi dengan catatan harus mengatur jumlah siswa, maupun waktu belajar mereka, dan bagi siswa yang tidak divaksin itu tetap melakukan pembelajaran secara daring. 

“Jam pelajarannya dilakukan secara terbatas yakni 3 jam per harinya. Begitu pula dengan siswanya yang biasanya 30 orang per kelas akan dibagi menjadi 15 orang per kelas. Jadi, dalam enam hari, 15 siswa itu akan bergantian untuk belajar secara tatap muka,” ujar Zubair. 

Zubair mengingatkan, bila kedapatan sekolah yang tidak mematuhi aturan yang ada, pihaknya akan bertindak tegas dan langsung melakukan penutupan sekolah bagi yang melanggar. 

“Kalau ada laporan bahwa ada sekolah yang tidak melakukan prosedur yang disepakati atau yang melanggar, kita akan tutup sekolah itu. Untuk itu satuan gugus tugas di sekolah harus berperan aktif dalam memantau dan terus mengingatkan kepada guru maupun siswa agar tetap mematuhi protokol kesehatan,” tutup Zubair.

Reporter: Fandiyanto Pou