Scroll Untuk Lanjut Membaca
INFO COVID-19PERISTIWA

Tolak Anaknya Divaksin, Orang Tua: Biar Nanti Putus Sekolah

×

Tolak Anaknya Divaksin, Orang Tua: Biar Nanti Putus Sekolah

Sebarkan artikel ini
Seorang anak mengikuti vaksinasi/ekslusif untuk dulohupa.id
Seorang anak mengikuti vaksinasi/ekslusif untuk dulohupa.id

Dulohupa.id- Rencana vaksinasi massal untuk siswa yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Gorontalo pada awal Agustus, menuai penolakan dari sejumlah orang tua siswa. Sebelumnya, rencana vaksinasi massal itu sendiri menyusul rencana pemerintah setempat untuk mulai membuka sekolah. 

Salah satu orang tua siswa, Sri Dewi L. Asi (44) asal Kelurahan Hepuhulawa, kepada Dulohupa.id, secara tegas menolak anaknya divaksin, walaupun sudah masuk dalam kriteria. Menurutnya vaksinasi kepada anak bisa berbahaya bagi tubuh mereka. 

“Saya tidak mau pak kalau anak saya divaksin, mendingan saya punya anak biar nanti putus (berhenti) sekolah pak, saya pe (punya) anak ini sehat-sehat, ” ujar Dewi saat ditemui di Shopping Centre Limboto, Kamis (29/7) siang. 

Senada dengan itu, Vera Maliki (36) asal Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, juga mengungkapkan penolakannya. Ia bahkan menyarankan anak-anak tidak usah dilakukan vaksinasi, dan melanjutkan pembelajaran di rumah saja, daripada akan divaksin di sekolah. 

“Biar tambah doi (uang) pak, saya pe (punya) anak saya tidak mo suruh vaksin dia, mendingan saya suruh bantu-bantu bajual (berjualan) saja,” ujar Vera. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Roni Shampir mengatakan, sesuai dengan juknis yang ada, bahwa mulai dari umur 12 tahun keatas anak itu bisa divaksinasi. Pihaknya juga kata Roni, sudah melakukan sosialisasi yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Gorontalo. 

“Sosialisasi itu sudah kami lakukan pada beberapa bulan yang lalu, dibantu langsung oleh pihak dari dinas pendidikan melalui kepala-kepala sekolahnya,” kata Roni

Lebih lanjut Roni menjelaskan, bila mana orang tua siswa yang menolak, pihaknya akan melakukan, pertama yakni adalah edukasi yang diutamakan dan tentunya pendekatan serta himbauan kepada orang tua siswa, agar anak-anaknya mau divaksin. 

“Kalau misalnya ada orang tua siswa-siswi yang menolak anaknya divaksin, kita harus memberikan mereka edukasi serta himbauan secara terus menerus dan pastinya meyakinkan orang tua, agar anaknya diizinkan divaksinasi,” tutup Roni.

Reporter: Fandiyanto Pou