Dulohupa.id- Setiap tahun, populasi burung Maleo (macrocephalon) di Cagar Alam (CA) Panua, Kabupaten Pohuwato, terus menyusut. Penyusutan itupun diduga karena beberapa faktor, salah satunya adalah aktivitas pertambangan emas yang kian dekat dengan batas alam CA Panua. Juga, perambahan kawasan hutan CA Panua yang terus terjadi.
Mengonfirmasi hal tersebut, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Gorontalo, Syamsudin Hadju, kepada Dulohupa.id mengatakan, bahwa memang benar terjadi penurunan populasi burung Maleo di CA Panua.
“Melalui data invetaris KSDA, data burung Maleo di kawasan CA Panua menurun setiap tahunnya. Karena wilayah CA terdampak akibat dari aktivitas pertambangan dan sudah masuk dalam kategori rusak,” ujar Syam, Rabu kemarin (23/12).
Bahkan kata Syam, dalam beberapa tahun terakhir, sudah sangat sulit menemui burung Maleo di kawasan habitatnya. Padahal, di tempat itu burung tersebut biasa bertelur dan berkembang biak.
“Kisarannya jika di presentase populasi Maleo menurun sekitar 20-30 persen per tahunnya. Itu data dari kami. Lama-lama burung Maleo dalam kawasan CA akan habis,” ujarnya.
Syam menjelaskan, hal paling berpengaruh terhadap berkurangnya populasi Maleo tersebut, adalah aktivitas alih fungsi kawasan, yang sebetulnya adalah habitat Maleo tarsebut. Selain itu, juga adalah aktivitas pertambangan.
“Karena aktivitas tambang menyebabkan Maleo berkurang populasinya. Namun juga, perubahan kawasan hutan yang peruntukan untuk wilayah perkebunan menjadi penyabab lainnya,” tuturnya.
Makanya kata Syam, pihaknya telah mengambil langkah tegas dengan semua pihak, untuk menjaga kawasan CA Panua dari aktivitas pertambangan, maupun alih fungsi lahan.
“(Kami) sudah sepakat untuk kawasan CA Panua dan sekitarnya haram hukumnya untuk melakukan kegiatan pertambangan dan melakukan perubahan kawasan,” tegas Syam dalam wawancara.
Reporter: ZUlkifli Mangkau











