Waspada! Burung dan Ikan di Pohuwato Terkontaminasi Merkuri

Dulohupa.id- Sebanyak tujuh burung pemangsa di Pohuwato ditemukan telah terkontaminasi merkuri (hydrargyrum/Hg) atau juga dikenal dengan raksa. Temuan itu tertuang dalam penelitian oleh Dosen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Gorontalo, Ramli Utina, dengan laporan berjudul “Spesies Burung Perairan Pesisir yang Terpapar Merkuri Limbah Penambangan Emas Tradisional di Kabupaten Pohuwato Gorontalo”.

Ramli mengungkapkan, melakukan penelitian itu pada rentang waktu 2014 hingga 2015 dengan mengambil sample di dua lokasi, yakni muara Sungai Randangan dan muara Sungai Talduyunu. Kebetulan, di dua tempat ini, mengalir limbah-limbah hasil pertambangan emas.

“Ada tujuh spesies burung di Pohuwato yang mengandung merkuri. Itu hasil penelitian kami di tahun 2014-2015,” kata Ramli Utina, belum lama ini kepada Dulohupa.id.

Ia menjelaskan, spesies burung yang ia teliti adalah spesies burung predator yang mencari makan di kawasan tersebut. Makananya kata dia, berupa biota laut seperti ikan, kerang, udang, dan kepiting.

“Burung-burung terkontaminasi merkuri, dan setelah kami lakukan penelitian, hasilnya memang ada kandungan. Kandungan merkuri berada di jaringan tubuhnya. Ada kandungan merkuri di jaringan tubuh burung seperti jantung, ginjal, otot dada,” ungkapnya.

Setelah menemukan adanya kandungan merkuri di tubuh burung-burung tersebut, Ramli melanjutkan penelitiannya dengan fokus pada biota laut, yang merupakan rantai makanan dari spesies burung tersebut.

“Kita menduganya begini, burung itu memakan biota. Jadi kita liat, puncak rantai makanan itu ada di burung sebagai pemangsa. Kalau di burung itu ada, berarti itu dari rantai makanan. Kita telusuri makanannya, makanan burung itu ialah biota laut,” ungkapnya.

Setelah melakukan penelitian tersebut kata Ramli, ia pun melanjutkan penelitiannya pada tahun selanjutnya. Dan benar saja, pada sejumlah biota yang dijadikan sample, juga ditemukan adanya merkuri.

“Di dalam biota yang dimakan burung juga ada. Ada merkurinya. Ada kandungan merkurinya,” jelas Ramli Utina.

Meski begitu, Ramli mengaku tidak melanjutkan penelitiannya dengan menganalisis kandungan air. Sebab, ia hanya berfokus pada spesies burung dan biota yang menjadi makanan dari burung-burung tersebut.

“Yang kami riset hanya di jaringan tubuh burung dan di tahun keduanya ialah pada biotanya. Di jaringan tubuh seperti kerang, keong, ikan kecil, udang, kepiting yang menjadi makanan burung kita riset. Tempat penelitian adalah wilayah pesisir yang menjadi muara Sungai Randangan dan muara sungai yang berada di Marisa. Dan hasilnya bahwa rantai makanan burung itu tercemar,” tuturnya.

Secara detil, Ramli menyebutkan, bahwa jenis-jenis burung yang terkontaminasi merkuri tersebut adalah, Tringa glareola/trinil/ndui-ndui (0,354 ppm), Butorides striatus/kokokan laut/burung tou (0,107 ppm), Himantopus leucocephalus/bayaman timur/burung suster (0,576 ppm), Anas gibberifrons/itik benyut/duwiwi (0,096 ppm), Todirgamphus chloris/cekakak/wati-watingo (2,345 ppm), Numenius phaeopus/ndui-ndui besar/gajaha (0,296 ppm), dan Nycticorax nycticorax/kowok malam/towu putih (0,248 ppm).

Reporter: Zulkifli Mangkau